Sun Yao yang berusia sembilan puluh tahun terbaring di atas ranjang. Balotelli bertanya padanya, "Sun, ingin makan sesuatu?" Sun Yao menggeleng pelan, "Tak ada selera." "Mau bangun dan menonton pertandingan?" "Tak berminat." "Ah! Kudengar Manchester Merah punya bek kanan muda yang luar biasa lagi!" Balotelli menghela napas. Mata Sun Yao tiba-tiba terbuka lebar, "Cepat, bantu aku bangun! Aku ingin mencobanya!" ~~~~~~~~~~~~~~~~ Mengingat masa-masa silam, ia pernah menguasai dunia sepak bola, mengamuk di sisi kiri lapangan!
"Hei! Budi!" teriak Sun Yao, "Umpan bolanya! Di sini, di sini! Aduh, kenapa nggak dari tadi diumpan!"
Budi, si lelaki gempal yang dipanggil begitu, terengah-engah dan berkata, "Sudah nggak kuat, aku nggak bisa main lagi!" Setelah berkata begitu, dia langsung duduk terkapar di tanah, tak mau menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
"Halah, Budi, lihat tuh badanmu, mending jangan main, malu-maluin aja!" celetuk seorang pria kurus berkacamata yang tubuhnya seperti tiang bambu.
"Eh, Muka Datar, kamu juga jangan banyak bicara! Dari tadi main, pernah sentuh bola sekali aja nggak?" Budi membalas.
"Kamu nggak lihat aku harus jaga siapa? Sun, si raja bola, mana mungkin aku bisa tahan? Cewek-cewek yang nonton di pinggir lapangan itu datang buat siapa, kamu nggak tahu?" si kurus berkacamata yang dijuluki Muka Datar menjawab pasrah.
Mereka berdua lalu memandang Sun Yao yang masih penuh semangat di lapangan. Tampak Sun Yao menerima bola di luar kotak penalti dengan bagian dalam kaki, lalu kaki kanan mencongkel keluar, kaki kiri menarik ke samping, mengecoh pemain bertahan yang mendekat, dan langsung menendang keras dengan kaki kanan!
"Praak!" "Duum!" "Wah!"
Bola membentur tiang gawang bagian dalam lalu memantul masuk ke gawang.
"Wow, serius? Gol kelas dunia!" Budi melongo.
"Yao, mending kamu masuk timnas aja sekalian!" ejek Muka Datar sambil mencibir.
"Panggil aku Batistuta, terima kasih. Nama panggilan kayak 'Yao