Bawa Dia Pulang

Bunuh aku, sembuhkan dirimu. Poria dan Pinellia 1219kata 2026-03-05 01:41:10

“Tuan Feng...” Orang tua yang berdiri di luar jendela adalah pria yang baru saja mereka temui di depan gerbang Perkebunan Huan Ge, kini ia berdiri terengah-engah setelah berlari. Feng Lixing tidak memedulikannya. Sopir pun tidak berani menghidupkan mobil ketika melihat seseorang berdiri di samping mobil.

Setelah beberapa detik suasana canggung, Feng Lixing akhirnya menurunkan kaca jendela. Orang tua itu segera mendekatkan kepala, “Tuan Feng, Tuan Besar masih ingin membicarakan sesuatu dengan Anda.”

“Ada urusan apa lagi? Yang perlu dikatakan sudah kukatakan di Liao Feng Xuan tadi. Kalau dia tidak setuju, menurutku sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Keluarga Zhou.” Nada suara Feng Lixing sangat tegas. Orang tua itu hanya bisa menunduk dan menghela napas dengan pasrah.

Melihat situasi itu, sopir menoleh dan bertanya, “Tuan Feng, kita...”

“Jalankan mobil!”

Mobil pun melaju kencang meninggalkan tempat. Lian Qiao menoleh, melihat orang tua itu masih berdiri di tempat parkir.

“Siapa dia?”

“Dia kepala pelayan lama keluarga Zhou, Zhou Ye.”

Tak lama kemudian, mobil mereka keluar dari kawasan Perkebunan Huan Ge. Sepanjang perjalanan, wajah Feng Lixing tetap tegang. Lian Qiao pun tak berani banyak bicara, hanya duduk diam dengan patuh.

Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi, hingga akhirnya ia tiba-tiba bertanya, “Perlu ke rumah sakit untuk memeriksakan kaki?”

“Tidak usah, cuma terkilir, tidak akan mati.”

Lagi-lagi jawaban itu! Kepala batu. Feng Lixing teringat saat kakinya Lian Qiao pernah melepuh karena tertumpah kopi, ia diam saja menahan sakit tanpa mengeluh. Hal itu membuatnya kesal. Tiba-tiba, Feng Lixing membungkuk dan mengangkat kaki kanannya, lalu meletakkannya di atas lututnya.

“Hei!” Lian Qiao sudah terbiasa dengan tindakan Feng Lixing yang sering kali di luar dugaan, tapi tetap saja ia terkejut dan hendak memprotes. Namun, Feng Lixing memegang pergelangan kakinya yang terkilir dan memutarnya sedikit, rasa sakit langsung menjalar dari telapak kaki hingga ke seluruh tubuh...

Astaga!

“Kau bisa tidak lebih pelan? Sakit sekali!” keluhnya.

“Tadi kau bilang tidak akan mati, kan?” Ia membalas, membuat Lian Qiao tak bisa membantah. Untung saja, gerakan tangannya kini menjadi lebih lembut, hanya memegang punggung kakinya dan memutarnya pelan, tapi tetap saja sakit.

Meski sakit, Lian Qiao menahan diri untuk tidak mengeluh. Sampai ketika Feng Lixing menengok, ia melihat gadis itu sedang menggigit bibir bawahnya.

Gerakan dan ekspresi itu lagi, membuatnya menyerah lalu tertawa, “Pergelangan kakimu sudah bengkak, sebaiknya periksa ke rumah sakit, bisa saja ada tulang yang cedera.”

“Aku tak mau, aku benar-benar benci rumah sakit.”

Ia berkata jujur, sebab dulu ia pernah melewati masa paling kelam dalam hidupnya di sebuah rumah sakit di Paris. Rumah sakit baginya berarti keputusasaan, kesepian, dan neraka tempat tak seorang pun bisa menyelamatkannya.

Feng Lixing pun tak bisa memaksa, ia hanya memijat pergelangan kakinya beberapa saat lagi. Suasana itu terasa begitu lembut dan intim, membuat hati Lian Qiao yang keras seolah-olah menjadi lunak, ada sesuatu yang tenggelam di sana...

Namun, tiba-tiba ia menarik naik rok Lian Qiao, menyingkap hampir seluruh kakinya yang putih dan lembut.

Lian Qiao terkejut dan refleks berusaha menarik diri, namun ia ditahan dengan tegas.

“Jangan bergerak, aku mau lihat bekas luka dari tumpahan kopi waktu itu!” Ia memberikan alasan yang tampak masuk akal, tapi tangannya justru bergerak naik menyusuri betis gadis itu... Kulitnya yang halus membuat tangan enggan beranjak.

Lian Qiao malu bukan main, ingin rasanya ia menghilang saat itu juga. Dasar pria tak tahu malu!

“Di mobil masih ada orang lain!” serunya karena panik. Begitu kata-kata itu keluar, ia baru menyadari ada yang tak beres—kenapa malah terdengar seperti rengekan manja dan rayuan yang tak disengaja...

Astaga! Lian Qiao pun menarik kakinya dengan sekuat tenaga, namun Feng Lixing yang sedang asyik tentu saja tidak mau melepaskan. Di kursi belakang, terdengar suara gesekan kain dan kulit kursi.

Sopir hanya berdeham pelan, sepertinya sudah sering menghadapi situasi seperti ini, jadi ia tetap tenang. Bahkan, ia dengan sigap menurunkan sekat penutup kursi belakang.

Kini, Lian Qiao dan Feng Lixing pun benar-benar terpisah dalam ruang privat mereka sendiri.