Garis Produksi
"Kalau tidak cukup orang, tiga puluh atau empat puluh juga bisa."
"Tidak, tidak," seru Pak Ding terkejut, "Lima puluh orang, meski masing-masing hanya bisa membuat tiga puluh buah per hari, itu sudah seribu lima ratus buah! Kau punya cukup kerang sebanyak itu?"
"Semua yang bisa memungut di pesisir Lihai sudah turun ke sana, katanya sudah hampir sampai ke wilayah Linhai."
"Bukan... Tuan Yang," gumam Pak Ding, "Seluruh kabupaten, berapa banyak orang sih, setiap hari menghasilkan seribu lima ratus buah... Tidak mau kau perhitungkan lagi?"
"Bikin dulu lima ribu, tumpuk saja. Kalau tidak laku, ya sudah," Yang Changfan tersenyum, "Dalam peperangan, kecepatan tentara itu penting. Dalam berdagang, kadang juga harus serba cepat. Kalau sudah mau jalankan usaha ini, lebih baik langsung gas pol."
"Sudah dihitung biayanya?"
"Semua lima ribu buah, biayanya sekitar sepuluh tael, masih sanggup."
"Aduh!" Pak Ding benar-benar terkejut, "Kemarin sebenarnya kau dapat uang berapa?"
"Tolong jangan dibocorkan ke siapa-siapa."
"Tidak akan,"
Barulah Yang Changfan mendekat ke telinga Pak Ding dan membisikkan sedikit, tentu saja ia menyebut angka yang lebih kecil, hanya empat puluh tael lebih.
"Hanya... hanya segitu... dua ratus buah? Dapat empat puluh tael lebih?" Pak Ding sampai melompat dari kursinya, "Satu buah bisa laku dua qian?"
Sebenarnya harganya sekitar empat qian, tapi Yang Changfan tak mau terlihat terlalu berlebihan.
"Itu semua berkat bantuan Pak He," ujar Yang Changfan tersenyum, "Itu juga hanya karena awalnya ada keunikan, selanjutnya belum tentu bisa laku sebanyak itu. Kalau batch berikutnya sudah jadi, nanti saya kirim juga beberapa ke Pak Ding."
"Itu terlalu berharga! Saya tak sanggup terima!" Pak Ding langsung panik, "Kalau kau sudah untung empat puluh tael lebih, kau atur saja sendiri, saya langsung carikan orang untukmu."
"Suruh mereka bawa bangku dan alat sendiri, saya tak punya sebanyak itu!"
"Tenang saja!"
Pak Ding pun buru-buru pergi, otaknya masih berputar keras saat beranjak. Cara yang dibicarakan kemarin oleh Yang Changfan dan Pak He ternyata benar-benar manjur! Uang yang dibawa para calon pelajar ini gampang sekali didapat!
Tapi lima ribu buah sekaligus... Sekalipun Kuaiji kabupaten besar, tak mungkin ada calon pelajar sebanyak itu.
Ah, urusan nanti, yang penting cari orang dulu.
Sebenarnya Yang Changfan sendiri sadar, secara bisnis, produksi sebanyak itu tanpa tahu pasti penjualannya memang agak berisiko, hanya saja biayanya sangat rendah. Risiko itu diambil demi mengejar momen ujian kabupaten yang sedang ramai, di sekitar Kuaiji masih ada Shangyu, Xiaoshan, dan kabupaten lain. Kalau produk sudah siap sekarang, mungkin masih bisa masuk.
Selain itu, membuat lonceng dari kerang ini sama sekali tak sulit, siapa pun bisa belajar dengan mudah, tak ada nilai teknisnya. Cara seperti ini tak bisa dipakai terus-menerus, jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya selagi bisa.
Belum sampai tengah hari, Pak Ding sudah datang membawa rombongan pekerja, sekitar empat puluh orang, semuanya membawa bangku dan alat sendiri, barisan yang lumayan juga. Kebanyakan perempuan, namun ada juga tujuh delapan pria di antaranya. Mayoritas sudah tua atau masih anak-anak, hanya satu yang tampak masih kuat dan muda.
Setelah Pak Ding memperkenalkan rombongan kepada Yang Changfan, ia berteriak ke kerumunan, "Urusan Tuan Yang ini saya yang jamin, kalian cukup bekerja dengan baik. Siapa yang hasilnya bagus, besok bisa lanjut, yang tidak bagus silakan pergi. Sehari dua qian, dua produk jadi dapat tambahan satu wen. Semua paham?"
"Pak Ding yang tanggung, tenang saja!"
"Tapi bukankah harus ada yang mengajari?"
Kerumunan bertanya bersahut-sahutan, membuat kepala Pak Ding nyut-nyutan.
"Sudah, orangnya sudah ada, selebihnya urusanmu," Pak Ding menepuk bahu Yang Changfan, "Selesai agak malam pun tak apa, asal upahnya jangan kurang. Aku sudah menjamin untukmu."
"Tak masalah." Yang Changfan mengambil satu lonceng yang baru saja dibuat Qiao'er dan memberikannya kepada Pak Ding, "Ini namanya Lonceng Kemakmuran, katanya pembawa hoki. Kalau suka, gantung di rumah, kalau tidak, beri saja ke orang lain."
Pak Ding menerima lonceng itu dan tersenyum pahit. Ia tahu benda itu sebenarnya tak berharga, hanya sekadar simbol niat baik, "Kalau begitu saya terima, nanti saya bantu promosikan."
"Terima kasih banyak, Pak Ding!"
Pak Ding menyingkir dari kerumunan dan pergi, menyisakan sekelompok wanita, anak-anak, dan orang tua yang hanya menatap Yang Changfan.
Yang Changfan melangkah beberapa langkah ke depan lalu menggambar lingkaran di pasir dengan sebatang kayu, "Semua duduk melingkar di sini."
Kerumunan itu mengikuti, segera saja mereka duduk membentuk beberapa baris di dalam dan luar lingkaran itu. Yang Changfan sendiri merasa geli, empat puluh orang lebih, mirip satu kelas di sekolah, rasanya seperti rapat kelas.
"Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan," kata Yang Changfan sambil melambai, "Sehari upah dua qian, setiap dua produk jadi ada tambahan satu wen, makin banyak makin dapat."
Semua mengangguk-angguk.
Yang Changfan melanjutkan, "Sehari minimal buat lima belas buah, kalau kurang hanya dapat setengah upah pokok, dan besok tidak usah datang lagi."
"Tuan Yang, itu tadi Pak Ding tidak bilang!" protes seseorang.
"Lihat tangan saya," kata Yang Changfan sambil mengangkat tangannya, "Tangan saya kasar begini, saya sehari bisa buat puluhan, apalagi kalian? Ini pekerjaan mudah, sekali lihat langsung bisa. Kalau tak bisa buat lima belas, berarti hanya malas-malasan saja."
Kerumunan itu tertawa melihat Yang Changfan. Mereka pun sudah lihat bentuk lonceng kerang itu—memang mudah dibuat. Mereka saling pandang dan tak ada lagi yang berkeberatan.
"Ketiga, setiap sepuluh orang bentuk satu kelompok dan pilih satu ketua."
Semua saling pandang.
Seseorang bertanya, "Tuan Yang saja yang tunjuk."
"Saya tidak tahu siapa kalian, tapi kalian saling kenal, jadi bentuk kelompok sendiri dan pilih yang paling terampil dan punya tingkah laku baik," Yang Changfan mendorong mereka, "Ayo cepat, bawa bangkumu, bentuk kelompok sendiri."
Mereka merasa ini seru, lalu segera membentuk kelompok. Yang masih keluarga langsung berkumpul, lalu yang berteman, terakhir yang sekadar cocok saja. Dalam sepuluh menit, mereka sudah terbagi jadi empat kelompok, masing-masing sebelas dua belas orang. Tiga wanita dan seorang kakek tua terpilih jadi ketua kelompok.
Yang Changfan memanggil para ketua ke depan, setelah melihat mereka, ia berkata, "Ketua kelompok bertanggung jawab mengawasi dan mengatur produksi di kelompoknya. Kelompok yang hasilnya paling banyak dapat tambahan lima qian, yang lain dapat dua qian, kelompok yang tak mencapai seratus lima puluh buah, tak dapat tambahan."
"Eh?" tanya kakek tua heran, "Bonus itu untuk ketua atau dibagi ke semua anggota kelompok?"
"Bonus diberikan ke ketua, ketua yang tentukan pembagiannya sendiri," jelas Yang Changfan sambil memberi isyarat dengan tangannya, "Kalau merasa kerja sendiri paling berat, ambil lebih. Kalau ada anggota yang rajin, beri mereka lebih. Silakan diatur sendiri."
Para ketua kelompok saling pandang, muncul perasaan aneh—di hari biasa mereka bukan siapa-siapa, sekarang tiba-tiba jadi kepala kecil yang pegang uang!
Yang Changfan mengingatkan, "Jelas ya, kalian bertanggung jawab untuk semua urusan kelompok, termasuk ambil bahan, menghitung hasil, dan sebagainya. Kalau merasa tak sanggup, bilang sekarang."
Mereka mengangguk-angguk, pekerjaan kecil begini mana ada yang tak sanggup.
"Yang lain masih ada pertanyaan?" tanya Yang Changfan pada semua.
Seorang wanita mengacungkan tangan, "Tuan Yang, kalau ketua kelompok tak mau bagi bonus bagaimana?"
"Kalau ada masalah dengan ketua, seluruh kelompok bisa lapor ke saya, nanti ganti ketua."
Barulah wanita itu mengangguk, para ketua kelompok pun harus berpikir baik-baik saat membagi bonus nanti.
Setelah bertanya satu per satu dan tak ada lagi yang keberatan, barulah Yang Changfan memanggil Qiao'er yang sedari tadi mengamati di samping.