Pada tahun ketiga puluh empat pemerintahan Kaisar Jiajing, seorang mahasiswa pascasarjana bidang kelautan terbangun dengan rendah hati. Pada zaman ini, para sarjana meninggalkan pena mereka demi menjadi perompak, sementara para perompak mengirim surat menunggu pengampunan dari pemerintah. Pada zaman ini, sang Kaisar tidak pernah berhenti membuat ramuan abadi, dan pelabuhan-pelabuhan kotor di luar sana tidak berani dibuka. Namun mereka semua tidak tahu, era penjelajahan besar telah tiba. Tak lama kemudian, peta dunia akan dipenuhi dengan bendera berwarna-warni dari berbagai negara. Dan aku, yang selama ini menganggap diri sebagai negeri adikuasa, tidak lagi menjadi pusat dunia. Mahasiswa pascasarjana itu menyadari semua ini, maka ia pun tekun belajar dan berusaha tanpa kenal lelah. Teman-temannya terlalu bodoh, musuh-musuhnya terlalu nekat; tanpa penelitian, mustahil bisa bertahan. Lautan terlalu luas, orang asing terlalu banyak; tanpa memperbanyak lulusan, tak akan mampu mengendalikan situasi.
Tahun 2016, Kepulauan Nansha, Karang Zheng He.
Permukaan laut biru nila berkilauan diterpa cahaya, kapal perang putih melaju menerjang ombak. Di ujung tiang kapal, seekor camar mendarat, membusungkan dada, memekik dua kali dengan penuh keangkuhan, seolah mengklaim wilayah laut ini sebagai miliknya. Ia tidak tahu, kapal perang ini beserta seluruh awaknya datang dengan tujuan yang sama: menegaskan penguasaan atas lautan ini.
Namun, tidak semua orang di kapal berbagi tujuan itu.
Di kamar tidur para prajurit di dek tengah kapal, tiga pemuda terbaring santai. Mereka hanyalah mahasiswa yang ikut ekspedisi kelautan, tiga orang peneliti muda yang bosan, rebahan di ranjang tanpa ketakutan seperti yang dialami Zheng He saat berlayar dulu.
Yang Changfan bersandar di ranjang atas, memainkan gawai canggih berukuran besar di tangan, sambil mengumumkan, “Sudah sampai di Karang Zheng He. Setengah hari lagi kita mulai tugas.”
Saudara di ranjang bawah hanya menggumam dan kembali sibuk dengan ponsel.
Pemuda berkacamata di ranjang atas seberang, mendengar nama tempat itu lalu bergumam, “Tempat aneh, apa Zheng He benar pernah ke sini?”
“Kurasa tidak pernah,” jawab Yang Changfan cepat, “Di sini pulau dan karangnya terlalu banyak, susah mencari nama. Untuk menegaskan sejak dulu wilayah ini milik kita, nama Zheng He dan para bawahannya dipakai. Zheng He sendiri pernah ke tempat yang jauh lebih jauh dari sini.”
“Paling jauh ke mana?” Mata si pemuda berkacamata bersinar tertarik. Kisah pelayaran Zheng He memang ada di buku pelajaran SD, tapi kebanya