047 Berima

Kembali ke Dinasti Ming Menjadi Bajak Laut Saya datang membawa jamur untuk Anda. 2823kata 2026-03-04 08:19:38

Si Gendut mengusap ibu jari Yang Changfan, lalu dengan ibu jarinya sendiri, ia menekan lembut bagian kiri atas.

Sepuluh tael sebagai penawaran awal?

“Itu tidak bisa.” Yang Changfan langsung menolak di tempat.

“Jangan bicara, dengarkan di dalam lengan baju.” Si Gendut menatap lengan bajunya dengan serius. “Aku sudah membuka harga, kalau kau rasa cocok, sentuh juga di tempat yang sama, maka sepuluh tael jadi kesepakatan. Kalau tidak setuju, kau balik tawar, buka puluhan tael, sentuh saja bagian mana di ibu jariku.”

“Begitu rupanya...” Tanpa ragu, Yang Changfan menyentuh bagian tengah kanan ibu jari Si Gendut, yang berarti “delapan”, menandakan harga delapan puluh tael ke atas.

Si Gendut memang sudah berpengalaman, ekspresinya sama sekali tidak berubah, ia kembali menggenggam tangan Yang Changfan dan menekan sekali lagi di posisi “satu”, sambil berkata, “Ada satu aturan: bila salah satu pihak tiga kali berturut-turut menyebut angka yang sama dan lawan tetap tidak setuju, maka urusan selesai, jual beli batal, tapi persahabatan tetap.”

Maksudnya jelas, kalau Si Gendut sampai tiga kali bersikeras membuka harga sepuluh tael dan Yang Changfan tetap tidak setuju, tak perlu lanjut berunding.

“Mengerti.” Tanpa berpikir panjang, Yang Changfan kembali menekan posisi “delapan”.

Kali ini Si Gendut akhirnya terlihat sedikit terkejut. “Bisa juga kau, Nak!”

“Itu semua karena petunjuk Kakak!” Yang Changfan tertawa.

Si Gendut mengandalkan pengalamannya, dua kali membuka harga sepuluh tael, itu sebenarnya semacam ancaman. Kalau ia sekali lagi membuka sepuluh tael, Yang Changfan akan kehabisan ruang tawar-menawar, tinggal pilih setuju atau menyerah. Bagi pemula seperti Yang Changfan, posisi ini sangat tidak menguntungkan. Kalau ia buru-buru ingin menjual, atau tidak sabar, bisa saja harga akhirnya jatuh terlalu rendah demi memastikan barang laku.

Harga dasar dalam benak Yang Changfan adalah dua puluh tael. Setiap lonceng angin modalnya paling tinggi lima wen, namun saat ini barang sangat langka, di pasar tak ada penjual lain, ini kesempatan emas untuk meraup untung besar. Kalau hanya jual dengan harga modal, itu benar-benar rugi. Apalagi Si Gendut pasti tahu sebelumnya satu lonceng juara sempat terjual empat qian lima, yaitu 450 wen. Tapi kedua pihak juga paham, harga itu hanya sesaat, terlalu banyak faktor ketidakpastian, dan tidak semua barang adalah lonceng juara. Maka Yang Changfan memperkirakan setiap lonceng bisa dijual dua atau tiga qian, sisakan ruang untung, bahkan kalau dia terima harga satu qian per lonceng pun masih untung, dengan 400 lonceng berarti 40 tael.

Tetapi Si Gendut jelas bukan pembeli sembarangan, sekali lihat sudah tahu modalnya berapa. Kalau benar-benar buka harga 40 tael, mungkin ia akan cari orang lain untuk buat sendiri, toh tidak terlalu sulit. Kini ia datang pada Yang Changfan hanya karena ingin pasokan cepat, produksi stabil, dan yang paling penting, selain Si Gendut belum ada yang menampung lonceng angin. Walau barang langka, baru ia saja yang menyadari peluang ini. Kalau ia tidak beli, sementara waktu memang tak ada pembeli lain.

Karena itu, harga dasar yang ditetapkan Yang Changfan adalah dua puluh tael, berarti setiap lonceng dijual lima fen, tetap dapat untung, hanya saja bagian terbesar untuk Si Gendut. Tentu, risiko barang tidak laku juga ia yang tanggung. Alasan lain Yang Changfan rela mengalah, ia sendiri tak leluasa berdagang di lapak, kemarin saja berjualan di tempat pengumuman hasil ujian itu sudah melanggar aturan, setidaknya harus sewa lapak yang layak, sedangkan ia tak punya sumber daya maupun waktu, sementara Si Gendut punya segalanya.

Inilah perdagangan, pikir Yang Changfan dalam hati—pertarungan antara produsen dan penjual.

Si Gendut ragu sesaat, akhirnya mengalah satu langkah, menekan bagian tengah kiri ibu jari Yang Changfan, artinya setuju dua puluh tael ke atas.

Yang Changfan juga mengalah, memberi sinyal tujuh puluh tael.

Si Gendut pun tertawa, “Adik, aku maklum kau masih pemula, jadi aku anggap saja candaan. Kalau dengan orang yang baru kenal langsung menawar setinggi langit, orang sudah angkat kaki duluan.”

“Kakak, kalau kita pakai harga jual sebelumnya, untung besarnya tetap di kakak.”

“Sudahlah, sudahlah.” Si Gendut mengalah, “Aku ajari satu aturan lagi. Kalau sudah mulai menilai dan menawar barang, setelah kode dalam lengan baju dimulai, mulut tidak boleh bicara lagi.”

“Mengerti, silakan Kakak.”

Yang Changfan tetap tenang, lagi-lagi menekan angka tujuh.

Si Gendut mengernyit, lalu menekan tiga kali berturut-turut di kiri bawah ibu jari Yang Changfan, sambil menjelaskan, “Tiga kali tekan berarti ‘harga mati’. Kalau kau tidak setuju, urusan selesai.”

“Aku juga boleh membuka harga mati?”

“Boleh, tapi karena aku sudah lebih dulu, kau tinggal terima atau tidak.”

“Ini sih triknya kejam.” Yang Changfan tertawa, “Kakak, kau tak adil, tidak bilang aturannya dulu, sudah langsung main harga mati. Kalau tahu dari awal, aku juga sudah buka harga mati.”

“Haha!” Si Gendut tertawa getir. “Baiklah, aku beri kau kesempatan, silakan.”

Yang Changfan berpikir sejenak, lalu tersenyum, dan ia pun menekan tiga kali berturut-turut di kiri bawah ibu jari Si Gendut, membuka harga mati tiga puluh tael.

Si Gendut kaget, lalu melambaikan tangan satunya sambil tertawa, “Adik, kau memang tahu aturan, sungguh tahu aturan!”

Yang Changfan tertawa lepas, “Kakak mengajari aku aturan, aku anggap saja bayar uang sekolah, mana mungkin sungguh ambil untung dari Kakak? Tapi mari kita sepakati, lain kali kita bicara lagi, modal beli kerangku naik terus tiap hari.”

“Itu sudah pasti.” Si Gendut tersenyum puas, ini sudah mendekati harga yang dia inginkan. “Sekarang, ulurkan telunjukmu, mari kita pastikan berapa puluh tael tepatnya.”

“Oh, begitu caranya, tinggal tambah angkanya.”

Yang Changfan mengulurkan telunjuk, lalu Si Gendut menekan tiga kali di kanan bawah, menandakan angka sembilan, maka totalnya tiga puluh sembilan tael, sekaligus memberi hormat pada Yang Changfan.

“Kakak juga tahu aturan!” kata Yang Changfan dengan mata membelalak.

“Mana mungkin aku ambil untung dari yang lebih muda!” Si Gendut segera menjelaskan, “Kalau sekarang aku genggam lagi tanganmu, artinya tawar-menawar selesai, sepakat, kalau kau setuju, balas genggam tanganku, kalau tidak setuju, sentuh saja jari tengahku, berarti kita lanjut bahas digit ‘qian’.”

Yang Changfan segera membalas genggaman Si Gendut.

Keduanya saling bertatapan dan tersenyum, lalu melepaskan tangan masing-masing.

“Mari lihat barangnya!” Si Gendut menepuk pahanya dan berdiri, “Terus terang, Adik, kali ini aku juga bertaruh. Harga segini, semata-mata karena menghormati Tuan Muda Yang.”

“Aku pun hanya karena menghormati Kakak mau menjualnya.”

“Sudah, sudah!” Si Gendut tertawa sambil menepuk Yang Changfan, “Silakan.”

“Monggo.”

Keduanya berjalan sambil berbincang menuju tumpukan lonceng angin. Si Gendut mengambil beberapa lonceng, menggoyangnya, terdengar nyaring dan merdu, tidak ada masalah, lalu mereka membicarakan soal pengambilan barang. Biasanya dalam transaksi seperti ini, sebelum serah terima, harus jelas siapa yang menanggung pengiriman, apakah penjual atau pembeli, sebab ongkos kirim bisa sangat berpengaruh tergantung jarak dan situasi. Kali ini Si Gendut langsung urus sendiri, lain kali tetap harus dibicarakan lagi.

Si Gendut memang sedang butuh barang, jadi tanpa banyak basa-basi, segala urusan cepat beres, lalu mereka berdua pergi ke tepi laut menemui perantara yang sedang memandang ke laut.

Sepertinya menyadari keduanya mendekat, He Yongqiang menatap ke laut dan tiba-tiba berpuisi, suaranya lantang, “Hatiku tertambat di seberang, sayang laut menghalangi!”

“Bagus sekali puisinya, Saudaraku Benmao!” Yang Changfan tertawa mendekat.

“Sayang baru setengah baris, andai lengkap pasti lebih indah!” Si Gendut ikut memuji.

“Baris berikutnya aku belum melihat,” He Yongqiang tetap bergaya, “Sudahlah, hidup memang penuh kepedihan seperti itu.”

“Oh... hidup penuh kepedihan... biar aku sambung...” Tentu saja Yang Changfan tahu apa maksud He Yongqiang, ia pun menatap ke seberang dan melantunkan, “Lautan duka memang bertepi, tapi tiada perahu yang bisa menjemputku.”

“Wah!” Si Gendut tertegun mendengarnya, “Kau memang hebat, Tuan Muda Yang!”

“Ah, tidak juga, hanya sekadar menyesuaikan rima.”

He Yongqiang malah terdiam, beberapa saat kemudian ia menyambung, “Kuingin jadi bangau putih, mengepak menuju seberang sana!”

“Aduh, sungguh indah!” Si Gendut tak peduli bagus atau tidak, tetap harus memuji, lalu ia menoleh pada Yang Changfan, “Tuan Muda Yang, masih mau menyambung lagi?”

“Tentu! Harus disambung!” He Yongqiang mengayunkan tangannya sebagai isyarat, “Kita bersyair, tak boleh kurang satu baris!”

“Hm...” Yang Changfan berpikir keras, lalu mendesah, “Menjelma jadi dewa, tak lagi kenal dunia manusia.”

“Aduh...” Si Gendut memegang dadanya seolah benar-benar merasakan kepedihan, “Tuan Muda Yang, kenapa harus begitu pilu?”

“Bukan, bukan, Saudaraku Huang, ini semua gara-gara Saudaraku Benmao memulai dengan suasana sendu, aku pun harus menutup dengan sendu.”

“Ah...” He Yongqiang juga memasang ekspresi sendu, tapi jelas menikmati suasana itu, “Changfan benar-benar mengerti aku, Changfan mengerti...”

“Tidak mengerti, hanya demi menyesuaikan rima.”