Bencana besar dunia tiba, sang mantan jawara, Daun Hijau, kembali ke masa sebelum bencana terjadi. Dengan pertemuan tak terduga, ia memperoleh kitab suci dari luar langit, menekuni ilmu sejati, membentuk ikatan dengan Dewa Gunung, menerobos Istana Naga, bertarung melawan berbagai kekuatan besar, merebut peluang langka dari alam semesta, dan meraih nama besar yang menggema. Ia menaklukkan para makhluk abadi, membuka dunia baru, dan menjadi satu-satunya penguasa di tiga alam, akhirnya mencapai puncak sebagai Kaisar Hijau dan menapaki jalan keabadian!
Di tepi danau, sebuah paviliun berdiri dengan jendela terbuka. Hujan turun lembut seperti benang, tertiup angin dan masuk ke dalam ruangan. Di tengah paviliun, sebuah tungku besar dari perunggu berdiri kokoh. Tungku ini dihiasi dengan tulisan kuno dan di keempat kakinya terpahat sosok binatang mitos yang garang.
Di Dinasti Jin Raya, binatang mitos itu melambangkan kekuatan militer; hanya keluarga yang pernah dianugerahi kekuasaan oleh kaisar dan dikenal sebagai jenderal pemberani yang berani memahatnya pada tungku perunggu.
Di sekitar tungku setinggi sembilan kaki itu, delapan gadis muda berpakaian warna-warni bergerak lincah. Bara menyala di dalam tungku, bukan untuk menghangatkan ruangan setelah musim dingin berlalu, melainkan untuk memanggang ikan segar. Di atas tungku terpasang jeruji besi; delapan gadis itu tertawa riang, berdiri di atas bangku tinggi, memegang garpu perak panjang untuk membalikkan ikan yang sudah menguning, lalu menyemprotkan saus dari teko perak ke atasnya.
Aroma lezat menyebar ke seluruh ruangan. Ikan yang diambil dari danau hampir tak berlemak, hanya saus yang menetes ke bara menghasilkan asap tipis.
Tungku perunggu menghangatkan paviliun. Di tengah ruangan, sebuah tirai tergantung, membatasi ruang. Di sisi lain tirai, sebuah meja panjang sepanjang dua belas kaki diletakkan rendah ke tanah. Di sekitar meja, delapan gadis berpakaian cerah berjaga. Di ujung meja, seorang remaja berusia empat belas atau lima belas tahun berbaring di kursi mewah.
Ia mengenakan jubah sutra yang agak usang, tapi bersih. Kakinya telanjang,