Jilid Pertama: Bulan Terbit Bab Dua Puluh Satu: Menakluk Tanpa Pertumpahan Darah
Langit di selatan kota sudah sangat gelap, langkah Yang Hekiu mulai melambat. Ia telah melihat deretan tenda putih sementara yang berdiri di atas tanah. Sebenarnya, jika Yang Hekiu terus berlari secepat tadi, ia bisa diam-diam mengitari kemah itu tanpa seorang pun menyadari kehadirannya. Bahkan jika tentara penjaga melihatnya, mereka pun takkan sempat mengejar dengan menunggang kuda.
Namun ia tidak melakukannya, karena ia ingin membawa Xu Chang'an melihat lautan di luar kota. Dalam waktu dekat, ia takkan kembali ke sini, jadi situasi di dalam kota harus ia pertimbangkan. Langkah demi langkah ia mendekati kemah-kemah itu.
Seorang penjaga segera meniup terompet tanda bahaya. Para prajurit sontak keluar dari tenda, menghunus tombak panjang, mengenakan zirah secepat kilat, menaiki kuda, dan menatap sosok itu dengan dahi berkerut.
Ketika tampak jelas wajah pucat anak muda di belakang Yang Hekiu, hati mereka pun tergerak oleh rasa iba. Mungkin belas kasihan pada bocah itu membuat perwira menahan kudanya dan enggan memberi perintah menyerang.
Yang Hekiu sendiri bimbang harus bertindak seperti apa. Ia tak ingin menyerang lebih dulu, namun jika tak mampu menggertak dan memukul mundur para prajurit itu, kota di belakangnya bisa jadi sangat berbahaya. Ia menyerahkan tiga gerbang kota lain pada Lin Pinggui karena tahu lelaki itu sangat kuat; meski agak merepotkan, ia percaya Lin Pinggui sanggup menjaga. Syaratnya, sisi selatan kota tak boleh memberi tekanan lebih. Maka walau tak ingin bertarung, tangan kirinya perlahan menggenggam pedang Xing Cui yang tergantung di bahunya.
Xing Cui belum dicabut dari sarung, hanya digenggam erat. Saat kilat membelah langit, Yang Hekiu menerjang ke depan dengan Xing Cui di tangan.
Para prajurit tak paham mengapa lelaki berseragam hitam itu menyerang, namun dengan cepat mereka menyesuaikan diri dengan situasi tak terduga itu. Formasi segera diubah, mereka bergerak mengelilingi dari sisi kiri dan kanan.
Xu Chang'an menempel di punggung Yang Hekiu, menatap gelisah pada pasukan berkuda yang kian lama makin mengepung.
Yang Hekiu pun cemas, namun bukan pada hal yang sama. Pasukan berkuda pertama telah melaju ke arah mereka. Mata Xu Chang'an terpaku pada kilatan dingin di ujung tombak musuh. Mungkin karena pancaran dingin itu menusuk hingga ke matanya, ia pun tanpa sadar memejamkan kedua kelopak.
Tombak lawan melesat tajam bersamaan dengan becek tanah yang terinjak kaki Yang Hekiu. Sebuah tebasan pertama melayang. Mungkin tak lagi layak disebut tebasan, sebab Xing Cui tetap tersarung, tampak seperti batang besi biru di tangan.
Namun bagi para prajurit, batang besi itu terasa lebih mengerikan daripada ujung tombak yang berkilat. Dingin musim gugur pun tak sanggup menandingi hawa dinginnya, deras hujan tak mampu menandingi kecepatannya.
Dalam gerakan mengayunkan pedang, hujan yang turun dari langit seolah melambat berkali-kali lipat. Kecepatan lari kuda-kuda perang itu pun tak berarti di hadapan pedang ini.
Sarung pedang Xing Cui mengguratkan lengkungan di udara. Dalam garis lengkung itu, hujan lenyap seketika, dan seluruh kekuatan tebasan mengarah tepat ke kilatan tombak yang menikam.
Ketika tombak dan pedang bersentuhan, ujung tombak itu aus dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap mata. Ujungnya lenyap, batang tombak pun raib, hanya tersisa hiasan merah menyala yang terlempar ke langit, dan kudanya jatuh dengan suara menggelegar.
Semua terjadi begitu cepat, sampai para prajurit bahkan tak sempat mencernanya. Xu Chang'an yang sempat memejamkan mata pun belum sempat membukanya kembali.
Setelah menangkis tombak itu, Xing Cui tetap belum ditarik. Sebab bahaya dari pasukan berkuda bukan hanya tombak, namun juga tabrakan dahsyat kuda perang mereka. Maka Yang Hekiu mengayunkan Xing Cui ke tubuh kuda lawan.
Di tengah hujan dan lumpur, prajurit di atas kuda merasakan getaran hebat menjalar dari bawah. Ia bahkan mendengar suara zirah dan tulang kudanya remuk dalam sekejap, bersamaan dengan detak jantung sendiri yang kencang.
Kuda yang kesakitan itu tak sanggup lagi berdiri, kedua kaki depannya menegang tinggi lalu ambruk berat ke belakang. Baru pada saat itulah tebasan itu ditarik. Kilat yang tadi menggelegar baru perlahan sampai ke telinga semua orang. Xu Chang'an baru membuka matanya, terpana menatap kuda yang tergeletak tak berdaya.
Yang Hekiu seakan tak melakukan apa-apa, namun Xu Chang'an melihat ujung sarung Xing Cui meneteskan air, pertanda pedang itu barusan benar-benar menebas dari bawah payung ke luar.
Kekuatan pasukan berkuda ada pada kuda-kuda mereka, namun kelemahan mereka adalah sulit melewati tubuh kuda besar yang ambruk di depan. Bisa saja melompati, namun selalu ada risiko tergelincir. Begitu terjadi penumpukan, jalan di depan pun tertutup.
Prajurit berkuda berikutnya memutar menghindari tubuh kuda yang jatuh, agar tidak menginjak rekan mereka sendiri. Namun, berkuda dengan tombak tetap menyerang Yang Hekiu. Ia pun tidak berhenti bergerak, mengayun pedang lebih cepat, lengan bajunya berguncang tanpa jeda.
Setiap kali mengayun, hiasan merah tombak terbang ke udara, seekor kuda besar jatuh tersungkur diterpa rasa sakit. Setiap tebasan, hujan dalam lengkungan itu langsung tersapu bersih. Suara sarung pedang memecahkan ujung tombak berdenting tajam, suara berat menghantam tubuh kuda, dan jeritan kudanya membahana.
Seolah di medan perang ini, suara angin, hujan, dan gemuruh petir tak lagi mampu menguasai suasana.
Payung hitam itu terus bergerak, laksana bunga teratai hitam yang mekar, menahan hujan dari langit dan cipratan lumpur di tanah. Sarung pedang biru itu menari di antara pasukan berkuda, bagai galaksi bintang yang mengalir di langit, menghempaskan dan menghancurkan segala yang mendekat.
Pedang panjang seakan menyerap cahaya bintang. Setiap hantaman laksana meteor menghantam kuda-kuda perang yang tampak gagah, dan lelaki muda pemegang pedang itu seperti tak pernah kehabisan tenaga.
Xu Chang'an tak pernah mengerti, dari mana kekuatan itu berasal? Dan mengapa sarung pedang yang tampak ringkih itu begitu kokoh?
Bukan hanya Xu Chang'an yang tak paham, para prajurit dan kuda yang tergeletak, serta pasukan yang mengelilingi pun tak mengerti.
Seolah kekuatan gaib mengalir dari perut Yang Hekiu ke seluruh tubuh, lalu ke sarung pedang, dan dihantamkan ke luar. Mereka tak tahu itu adalah energi spiritual murni, namun dapat menebak sedikit.
Mereka tetap tidak mau dan tidak berani percaya bahwa pasukan berkuda besi Dachang yang biasanya tak terkalahkan kini begitu tak berdaya di hadapan pedang itu.
Menurut mereka, bahkan seorang pendekar tingkat atas sekali pun tak mungkin sedemikian mudah menjatuhkan kuda-kuda perang hanya dengan sekali ayun, seolah menepuk lalat.
Namun sampai saat ini, pedang lelaki berbaju hitam itu belum juga keluar dari sarung! Ia sama sekali tak menunjukkan kemampuan seorang pendekar, hanya tampak seperti lelaki bertubuh kuat yang mengandalkan kekuatan fisik. Di utara kota, ada seseorang yang bisa seperti itu, namun Yang Hekiu bukanlah pendekar bela diri.
Pertempuran bisa berlangsung seperti ini karena hari ini Yang Hekiu sudah sangat lelah. Pertarungan melawan dua arus energi dalam tubuh Xu Chang'an menguras tenaga dan pikirannya.
Para prajurit yang berjuang bangkit dari lumpur pun tak tahu harus berbuat apa. Tanpa kuda, tanpa tombak, melawan lelaki itu dengan tangan kosong hanyalah sia-sia. Bahkan dengan senjata pun mereka tak yakin bisa menang.
Tubuh kuda yang tumbang menghalangi jalan pasukan berkuda, namun Yang Hekiu tidak memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat. Ia justru melompat melewati kuda-kuda yang terkapar.
Melihat itu, para prajurit sedikit lega, mengira lelaki itu akhirnya akan pergi. Mereka pun memahami mengapa selama ini hanya mengepung kota tanpa menyerang.
Namun ternyata mereka keliru. Seorang prajurit merasakan hawa dingin menusuk, lalu menatap sepasang mata hitam indah. Tapi tujuan mata itu bukan dirinya, melainkan kuda di bawahnya. Lelaki muda itu seperti terobsesi pada kuda dan tombak. Setiap ayunan pedang selalu menghantam tubuh kuda dan ujung tombak.
Di masa perang, cara seperti ini dianggap hina bagi kedua belah pihak, sebab kuda perang adalah rampasan yang sangat berharga, sedangkan nyawa manusia bukanlah hal yang langka.
Namun kini, mereka tidak mengutuk tindakan Yang Hekiu. Tak seorang pun ingin terkena tebasan pedang itu. Tetapi pedang itu tetap harus mengenai sasaran, maka sasarannya adalah kuda dan tombak di tangan mereka.
Pikiran Yang Hekiu sederhana: ia tak bermaksud membunuh. Jika ingin, Xing Cui sudah sejak tadi terhunus. Tujuannya hanya agar para prajurit itu tak mampu lagi menyerang kota, bukan sekadar menggentarkan, tapi juga meruntuhkan kekuatan tempur mereka.
Tanpa kuda, tanpa tombak, pasukan berkuda sehebat apa pun tak bisa lagi disebut pasukan berkuda.
Andai pertempuran ini terjadi di negeri Jing, para prajurit pasti tanpa ragu meloncat turun dari kuda, meletakkan tombak, dan menyingkir jauh-jauh untuk menonton nasib tragis kuda mereka, dalam hati berdoa diam-diam untuk kuda-kuda malang itu. Namun sebagai pasukan berkuda besi Dachang, harga diri mereka tak mengizinkan!
Maka... mereka pun melarikan diri.
Mereka menarik rekan-rekan tanpa kuda, kebanyakan berboncengan di satu kuda, lalu kabur ke arah timur kota. Setelah melihat di kemah timur tak ada kawan mereka, mereka berputar ke utara.
Kabur dengan wajah lusuh, namun semangat mereka bukannya redup, justru mata mereka makin bersinar terang, karena mereka menemukan medan baru dan segera bergabung ke sana.
Hujan semakin deras, namun di sekitar tak ada setitik pun darah, hanya lumpur becek yang diinjak-injak dan tubuh kuda yang hancur tulangnya. Puluhan kuda yang terkapar berjuang bangkit, tapi tak pernah bisa berdiri lagi.
Besok pagi, jika ada warga kota yang bangun lebih awal, mereka mungkin akan mendapatkan kejutan di luar kota.
Inilah kemenangan tanpa meneteskan darah!