Jilid Satu: Bulan Terbit Bab Lima: Kota dalam Bahaya
Tepat tengah hari, ibu dari Yu Ming yang tinggal di sebelah, yakni Ny. Zhang, memanggil anaknya pulang untuk makan siang. Ketika melihat gadis bergaun merah, tatapannya segera berubah agak aneh, menatap tetangga kecilnya itu dengan penuh perhatian. Lalu ia menatap anaknya seolah-olah kecewa, dan dengan niat baik bahkan menawarkan gadis bergaun merah untuk ikut makan bersama di rumahnya.
Sedangkan Yu Ming, tanpa sedikit pun solidaritas, langsung berlari kabur. Pikiran orang dewasa memang sulit dipahami oleh anak-anak seperti mereka.
Namun saat Xu Chang'an berbalik menatap Ny. Zhang, ia merasa tatapan itu sangat familiar. Ia tidak ingat apakah mirip tatapan seorang mertua kepada menantu wanita saat pernikahan musim semi tahun ini?
Melihat gadis bergaun merah tidak bergeming, Ny. Zhang hanya bisa membawa anaknya masuk ke rumah, dan saat melewati halaman, ia masih sempat berjinjit mengintip ke rumah sebelah untuk memastikan keadaan.
Ia menghela napas dan berbisik, "Bukankah kau selalu bilang Chang'an itu anakmu secara tidak langsung? Kalau tidak ada kejadian tak terduga, gadis itu mungkin akan jadi menantumu di masa depan..."
Remaja kecil yang mendengar hal itu langsung tersipu, dengan gaya sok dewasa ia mengelus dagunya yang masih halus tanpa janggut, bergumam sendiri, "Menantu ini kelihatannya tidak murah..."
Ny. Zhang melihat tingkah anaknya, tak tahan untuk menegur sambil tertawa, ada rasa iri namun tak disertai kedengkian.
Xu Chang'an mencoba bertanya, "Bolehkah aku tahu kenapa kamu ada di rumahku?"
Gadis bergaun merah mengangkat kepala, berpikir sejenak, lalu menjawab, "Ikan enak."
"Ikan ini ditangkap dari luar kota, rasanya sama saja dengan kebanyakan ikan lain," ujar Xu Chang'an membantah.
Gadis itu mengedipkan mata indahnya tanpa menanggapi, lalu bertanya, "Kamu cukup akrab dengan Zhang San Cu?"
Xu Chang'an terkejut mendengar pertanyaan itu, ia tidak tahu bagaimana gadis itu mengetahui hal-hal tersebut. Tapi teringat lelaki pendek gemuk itu, nalurinya mengatakan akrab dengan Zhang San Cu bukanlah hal baik. Ia cepat-cepat menepis, "Tidak akrab, aku bahkan tidak tahu apa yang dijual di keranjang miliknya."
Entah kata-katanya itu alasan atau tidak, gadis itu kembali bertanya, "Namamu Xu Chang'an?"
Bagi Xu Chang'an, gadis bergaun merah di depannya sangat misterius. Kenapa dia begitu tahu tentang dirinya?
Ia menelan ludah dan bertanya, "Bagaimana kamu tahu?"
"Tadi orang itu memberitahu, katanya kamu pelit. Kalau menangkap ikannya, bisa terjadi hal buruk. Tapi sekarang kelihatannya tidak apa-apa."
Xu Chang'an bingung harus menjawab apa, pikirannya hanya ingin tahu siapa gadis bergaun merah itu dan apa yang akan terjadi di kota.
"Ayahmu bermarga Li?"
Xu Chang'an tersadar, menatap gadis itu seperti menatap orang bodoh, dengan tatapan aneh dan berkata tanpa semangat, "Aku bermarga Xu, ayahku juga bermarga Xu. Kakekku... meski aku belum pernah bertemu, sepertinya juga bermarga Xu."
Gadis itu bergumam, "Itu aneh..."
Xu Chang'an sudah terbiasa dengan hal-hal aneh, "Semua orang bilang namaku aneh. Katanya ada kota bernama Chang'an, namaku diambil dari sana. Kau pernah ke Chang'an? Apakah banyak orang di sana yang namanya sama seperti aku?"
"Kamu banyak bertanya," gadis itu mengeluh.
Xu Chang'an terdiam, dari awal memang dia yang banyak bertanya, tapi begitu dirinya bertanya satu hal malah dibilang terlalu banyak.
Mungkin karena bosan, gadis itu melirik Xu Chang'an yang berdiri diam di sampingnya, lalu bertanya, "Kakek buyutmu bermarga Li?"
Wajah Xu Chang'an menjadi suram. Ia memang bukan tipe orang yang mudah diatur, mungkin dulu iya, tapi sejak pindah ke sisi barat kota dan sering mendapat perlakuan buruk dari Zhang San Cu, ia jarang menahan diri.
Xu Chang'an menatap marah, namun saat melihat wajah cantik dan bersih gadis itu serta matanya yang penuh harapan, kemarahannya langsung sirna. Ia menjawab lemah, "Tidak bermarga Li."
Gadis itu tidak terlihat kecewa, ia memang hanya bertanya asal saja.
Xu Chang'an memberanikan diri bertanya lagi, "Beberapa hari ini orang-orang bilang di kota ada tiga orang aneh. Dua di antaranya sudah aku temui, satu di utara, satu di selatan. Kau tahu apakah ada sesuatu yang akan terjadi di kota?"
"Kamu maksud aku juga aneh?"
Xu Chang'an mengangguk, "Kamu di barat, aku penasaran apakah di timur ada satu lagi yang tersembunyi. Apa tujuan kalian sebenarnya?"
Gadis itu menjawab santai, "Aku tidak sejalan dengan mereka, malas menjaga gerbang kota. Dua orang lainnya... "
Satu orang di selatan, satu di utara. Gadis itu tidak mengenal dua orang tersebut. Yang ini sudah dijelaskan oleh pemuda tampan pada Xu Chang'an, jadi ia tidak meragukan ucapan gadis itu.
"Bagaimana dengan dua orang lainnya?" tanya Xu Chang'an.
Gadis itu mencibir, "Sudah makan ikammu beberapa hari, jadi kuberitahu saja. Kaisar Zulong dibunuh, wafat di tepi Sungai Lubel."
Keluar dari gerbang barat kota, tak jauh sudah akan bertemu sungai, itulah Sungai Lubel.
Sungai Lubel sangat panjang, Xu Chang'an sering berjalan ke hulu saat senggang, namun tak pernah menemukan ujung sungai itu. Ada yang bilang sungai itu memang tidak punya ujung.
Pantas saja, pantas saja ada pisau di air, dan ikan tiba-tiba jadi tak enak. Ikan yang terkena darah orang lain mungkin tak merasakan perbedaannya, tapi Xu Chang'an berbeda. Setahun tinggal di barat kota, tiga kali sehari ia makan ikan dari sungai itu, sekecil apapun perubahan rasa selalu bisa ia kenali.
Seperti kata Zhang San Cu, 'Meski di hulu ada yang buang air di sungai, rasanya sudah sangat tipis, daging ikan di mulutnya tetap bisa ia bedakan asin atau tidak.' Meski terdengar menjijikkan, itu bukan omong kosong.
Xu Chang'an terkejut, "Jadi orang-orang yang punya hubungan di kota pindah satu per satu karena...?!"
"Pembantaian kota."
Xu Chang'an langsung jatuh duduk di tanah, ketakutan adalah satu alasan, tapi yang lebih penting, ia tidak mengerti kenapa ayahnya harus buru-buru pindah sebelum ulang tahunnya lalu meninggalkannya sendiri di sini. Hal itu sangat memukulnya.
Ia memaksakan senyum, "Tidak, tidak, kalau benar begitu, pasti ini rahasia besar, orang di selatan saja tidak mau bicara, kenapa kamu tahu? Dan kenapa dengan mudah mengatakannya? Lagi pula, kalau tahu akan ada pembantaian, kenapa datang ke sini? Tak ada yang mau datang untuk mati, kan? Ayahku bilang ia pergi untuk urusan bisnis, pasti memang pergi untuk bisnis!"
Ucapan Xu Chang'an makin lama makin seperti ingin menangis.
Gadis bergaun merah merasa terganggu oleh ucapan Xu Chang'an, sebelum ia benar-benar menangis, gadis itu memukul kepalanya dengan keras dan berkata, "Aku bisa mengatakannya karena aku bukan orang dari ibu kota."
Xu Chang'an tertegun, mengusap kepalanya lalu sedikit tenang, bertanya lagi, "Lalu bagaimana kamu tahu?"
Gadis itu pura-pura marah, "Kamu itu menyebalkan! Aku lapar, cepat masak!"
Xu Chang'an merasa sedikit kecewa, lalu diam-diam mengambil ikan yang sudah mati dari tepi sungai dan membawanya ke dalam rumah.
Melihat adegan itu, gadis bergaun merah tak kuasa menahan tawa.
Tanggal sembilan September, warna merah dan hijau mulai pudar, hanya kuning chrysant yang bersaing mekar, tumbuh liar namun tak layu.
Burung-burung musim gugur pun seakan malas meneriakkan suara, sibuk membangun sarang baru. Tanpa perlindungan ranting yang lebat, mereka menatap anak-anak nakal di bawah pohon, mungkin mempertimbangkan apakah perlu membangun sarang lebih tinggi lagi?
Di kota, seorang penyapu jalan kurus memegang sapu setinggi dirinya sendiri, menatap hamparan dedaunan kuning yang luas, tenggelam dalam lamunan.
Seorang pria memikul bambu yang telah licin karena dipakai lama, menginjak daun-daun kering tanpa berteriak menawarkan dagangan, hanya mondar-mandir tanpa tujuan dari timur ke barat. Jika bertemu pembeli ramah yang ingin mencicipi dagangan, ia tak memberi sedikit pun harga murah, malah melontarkan 'Tidak dijual, dasar penipu tua!' hingga wajah pembeli tua itu merasakan kembali teguran masa muda, lalu bertekad menghajar si pria pendek gemuk itu dengan tongkat.
Di utara kota, seorang pria setengah baya yang sangat tinggi duduk santai di kedai minuman, memegang mangkuk besar seolah mainan anak-anak, di atas meja hanya ada sebotol air, ia menatap ke utara sambil termenung.
Di selatan kota yang penuh bau amis darah dan ikan, di sebuah toko alat pancing yang tak menarik perhatian, seorang pria tua mabuk tertidur, wajahnya lebam, namun terlihat sangat puas. Di pintu, seorang pemuda tampan menatap aliran darah ikan di bawah kakinya dengan penuh renungan.
Penduduk kota sudah mulai menyematkan daun Chuyu di kepala mereka, percaya daun itu bisa mengusir roh jahat.
Saat makan siang, baik di timur maupun barat kota, selalu ada semangkuk arak chrysant di atas meja, tanda umur panjang. Ada yang membahas ke mana akan pergi setelah makan, ada yang lebih awal pergi berziarah kepada leluhur, memohon keselamatan dan bebas dari bencana.
Namun ada juga yang sudah melarikan diri, mengejar hidup di luar kota.
Yang melarikan diri tidak tahu mereka tak bisa lolos, yang tinggal tahu mereka tak bisa pergi.
Dalam hari-hari seperti ini, jarang ada yang tahu bahwa hari ini adalah ulang tahun seorang remaja, dan ulang tahun itu pun berlangsung dengan suasana muram yang tepat menggambarkan keadaan.
Namun pemandangan di dalam halaman rumah benar-benar berbeda dengan di luar, di luar warna merah dan hijau telah pudar, di dalam hanya ada satu warna merah yang mencolok.
Remaja itu melihatnya dan merasa sedikit terhibur.
Seorang laki-laki dan perempuan, dua mangkuk sup ikan, suasana sangat hening.
Remaja itu menunduk memegang mangkuk, perutnya sudah keroncongan, namun melihat sup ikan di tangan seperti tersangkut di tenggorokan, sulit untuk menelan.
Sementara gadis itu tampak santai, tidak makan tergesa-gesa tapi juga tidak terlalu elegan. Ia sudah bosan dengan tingkah remaja itu, mengambil sumpit lalu mengetuk mangkuk dua kali, mungkin teringat nasihat orang tua bahwa itu seperti meminta-minta, segera ia letakkan sumpit dan berdehem pelan.
"Kalau kurang, aku ambil lagi," ujar Xu Chang'an, lalu hendak bangkit.
Gadis itu menghela napas, "Meski kamu seperti ini, mati tetap akan mati."
...
Xu Chang'an terdiam, "Kamu menghibur atau apa..."
Gadis bergaun merah malas menjelaskan, terus menikmati sup ikan di mangkuknya.
Xu Chang'an bergumam, "Ada hal-hal yang terlihat kebetulan, tapi rasanya seperti sengaja diatur."
"Bagaimana maksudnya?" tanya gadis itu dengan mulut penuh ikan.
Xu Chang'an meletakkan mangkuk dan sumpit, berjongkok di pintu membelakangi gadis itu, "Ayahku menyuruh orang menjemputku pulang, waktu ke timur kota aku bertemu orang aneh pertama, jaring ikan robek, saat mengambilnya bertemu orang aneh kedua, pulang-pulang orang aneh ketiga sudah di depan rumahku. Rasanya tak mungkin semua itu hanya kebetulan."
"Apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Kalian semua tidak mau memberitahu apa yang terjadi, tapi seolah-olah membimbingku untuk mencari tahu. Kenapa kalian ingin aku tahu tentang ini?"
Gadis itu mendengar, merasa kesal, telapak tangan halusnya menepuk meja dengan marah, menatap Xu Chang'an sambil menggigit kata, "Kamu bermarga Li atau apa?"
Xu Chang'an terdiam sesaat, lalu menjawab, "Aku bermarga Xu."
"Xu! Tadi kamu sendiri yang minta aku memberitahu apa yang terjadi!"
Xu Chang'an sangat malu, tapi tetap bersikeras mengingatkan, "Aku tidak meminta."