Bab Seratus Tiga: Dimakan

Kaisar Hijau Jing Keshou 3440kata 2026-04-01 00:42:45

Syukurlah Bai Qi cekatan, membuat Zhan Bu kembali mengendalikan Perahu Emas Penolak Bahaya; jika tidak, saat itu pula perahu itu akan memperlihatkan bentuk aslinya dan menarik perhatian lebih banyak makhluk iblis di sekelilingnya.

Pada dasarnya, meskipun Bai Qi telah membuat ribuan jimat giok, ia tak akan terlalu memedulikan seekor iblis bertaraf Tahap Kembali ke Kekosongan. Makhluk itu memang bukan praktisi pemurnian qi. Memang penguasaan qi-nya jauh lebih padat, namun ia tak memiliki jalan Tao yang layak diperhitungkan. Tetapi lautan ini terlalu luas; jumlah iblis di dalamnya seakan tak berujung. Sebanyak apa pun jimat giok Bai Qi miliki, pasti suatu saat akan habis.

Bai Qi melihat keganasan makhluk itu; sebelum sempat menampakkan bola roh serangannya, ia sudah menumbangkan Perahu Emas Penolak Bahaya setinggi langit, memisahkannya dari permukaan laut. Di udara, sekumpulan iblis bersayap berdaging meluncur menerjang ke bawah. Dua puluh empat Bola Pedang Roda Bulan milik Bai Qi berputar, menahan para iblis itu tetap di luar daerah kendali pedang.

Perahu Emas Penolak Bahaya berputar beberapa kali di udara, lalu meliuk menurun menuju permukaan lautan.

Setiap tebasan pedang Bai Qi menjatuhkan satu iblis. Namun kali ini tak ada hujan darah. Para iblis itu berubah menjadi udara lalu lenyap. Padahal pada Bola Pedang Roda Bulan, Bai Qi jelas merasakan bahwa tebasan itu benar-benar menghantam wujud nyata.

“Itu ilusi,” kata Zhu Guo sambil menempelkan jimat Sembunyikan Qi pada tempatnya, lalu berbisik kepada Bai Qi.

Bai Qi mengerut. Ilusi ini begitu kuat; bola pedangnya harus berhadapan dengan pertempuran sungguhan untuk menembus khayalan. Jika sihir semacam ini berlanjut tanpa ujung dan terus memunculkan iblis bertaraf Jindan, tenaganya pasti habis.

Setiap sekali tebasan jatuh, tenaga yang terbuang sama persis seperti saat bertarung sungguhan.

Bai Qi sedikit memperkecil jangkauan serangan bola pedangnya, lalu mengorbankan satu Jimat Bumi Keras yang Mengacaukan Roh. Seketika Perahu Emas Penolak Bahaya dililit gumpalan qi kegelapan yang buram. Saat ia menarik pedang dengan tergesa, para iblis itu mendadak menyelusup ke dalam aura kegelapan dan punah, hilang satu per satu.

Secara kasat mata memang mengerikan, namun iblis-iblis ini sama sekali tak memiliki daya hantam sejati setara tahap Jindan. Begitu menyentuh wilayah serangan Jimat Bumi Keras itu, mereka langsung luluh, menjadi udara bening, tak pernah tampil lagi.

Tetapi dari kejauhan di tengah lautan, terdengar raungan marah yang dalam. Ternyata qi kegelapan dari jimat itu juga menggerogoti ilusi, dan makhluk penghasil ilusi tadi pun terluka sedikit olehnya.

Jimat Bumi Keras Pengacau Roh itu tak hanya menggosok peralatan lawan; ia juga bisa melukai jiwa yin atau jiwa yang secara samar. Bahkan bila satu pikiran pun tercemar oleh qi kegelapan, seseorang tetap harus membayar dengan sedikit harga.

Iblis yang kala itu mengejar Perahu Emas Penolak Bahaya pun kini menyembur ke permukaan. Makhluk itu bertubuh lebih dari tiga puluh zhang, dengan zirah sisinya yang tebal, ekor satu berselimut duri, dan dua mata raksasanya memancarkan merah menyala bagaikan api.

Karena tahu makhluk ini pun hanyalah ilusi, Bai Qi tak berani lagi membelanjakan jimat giok. Ilusi ini tak pernah habis; tanpa memukul sumbernya, ia takkan sanggup menanggungnya.

“Zhan, jangan ubah arah.” kata Bai Qi. Ia mengumpulkan dua puluh empat Bola Pedang Roda Bulan menjadi satu lingkaran bulan. Kini ia pun tak lagi menahan kekuatannya. Dari piringan bulan itu, sosok seorang pria dengan wajah berpunggung menoleh, telah menarik pedang dan langsung menyambar balik. Tebasan ini membawa kira-kira setengah dari daya Pedang Pembantai Dewa, membuat Bai Qi merasakan di atas jiwa yinnya seolah sebuah gunung besar ditekan, lalu ia merasakan dirinya sejenak mengangkat gunung itu.

Dulu Bai Qi hanya menyelipkan niat Pedang Pembantai Dewa ke dalam arus pedangnya semata, sekadar menambah daya rusak. Kali ini ia justru melepaskan langsung niat itu sendiri. Niat itu bagi para kuat tahap Jindan ibarat kekuatan yang menghapus secara langsung; tanpanya memadatkan jiwa yin, Bai Qi pun takkan mampu mengendalikannya.

Yang demikian, justru para ahli tahap Jindan pun sulit menguasai Pedang Pembantai Dewa. Bai Qi sendiri belum membentuk jiwa yang dengan, sehingga tekanan pedang itu sangat berat baginya; daya jiwa yang seharusnya membantu pun tak bisa dipakai. Karena ia menahan aliran itu untuk tidak dilepaskan, beban pada jiwa yin menjadi makin gila.

Dari bawah air, iblis itu memuntahkan satu bola roh seukuran kepalan tangan, langsung mengarah ke Perahu Emas Penolak Bahaya. Jika serangan nyata, bola roh itu akan menghancurkan perahu dan orang di dalamnya tak mungkin selamat.

Bai Qi menunggu lama. Saat bola itu baru saja muncul, barulah tebasan dari teknik Tebasan Cendekia dalam dua puluh empat Bola Pedang Roda Bulan meledak, tepat mengenai bola roh. Sesudah satu tebasan itu, seluruh tubuh iblis meledak berkeping-keping, berubah jadi air laut, lalu lenyap.

Namun Pedang Pembantai Dewa ini bukan sama dengan qi kegelapan di dasar bumi. Saat bilah itu tercurah, entitas pengatur ilusi melepaskan lolongan sengsara yang dahsyat. Perahu Emas Penolak Bahaya kembali dilempar tinggi, dan di permukaan lautan sejauh seratus li, air memekat membentuk semburan ke langit.

Mata Zhan dan Zhu Guo menghitam sekejap, hampir pingsan. Kebiadaban pada qi pembunuhan itu terlalu tajam untuk praktisi pemurnian qi tahap Menjadi Dewa. Segera keduanya menelan masing-masing satu pil dan berusaha menenangkan napas di tempat. Bai Qi, tanpa belas kasihan, menggiring Perahu Emas Penolak Bahaya maju dengan kecepatan tinggi.

Iblis ilusi itu makin murka karena disadarkan; satu tebasan itu menyayat langsung yuan ling-nya.

Bai Qi mengarahkan Perahu Emas Penolak Bahaya terbang lebih dari belasan li. Tiba-tiba dari dalam air memancar bayangan seorang pria, lalu sebatang pedang menjatuhkan tebasan ke atas kepalanya.

Di dalam tebasan itu, keganasan niatnya hampir menyamai Pedang Pembantai Dewa. Namun Bai Qi memutar Bola Pedang dan memenggal orang itu. Yang dipenggal itu berubah menjadi helaian angin, lalu berkumpul kembali. Barulah Bai Qi melihat wajahnya: orang yang menyerang tampak aneh, matanya dipenuhi kebingungan.

Zhan baru sadar, seraya berteriak dengan ngeri, “Itu Naga Syen!”

Di lautan ini memang ada pemukiman bangsa naga. Wilayah kendalinya tak luas, tetapi kekuatannya melampaui kebanyakan, dan dari naga-keturunan itu lahir banyak bentuk ganjil. Naga Syen sendiri terbentuk dari gaung percampuran qi kabut dan qi naga di laut, varian naga sejati yang lahir di luar sembilan naga sejati.

Naga Syen mampu berganti bentuk sebanyak apa pun. Makhluk yang mati di tangannya akan dirampas rohnya; cukup secuil cap jiwa, ia bisa meniru segala yang pernah dimiliki makhluk itu saat hidup.

Manusia yang baru saja Bai Qi himpun jadi serpihan tadi adalah seorang praktisi pemurnian qi penyeberang laut yang ditelan Naga Syen, lalu dipaksa bangkit kembali dari ingatannya.

Tubuh manusia yang terbentuk kembali itu menyatu dengan cahaya pedang, mengaum seperti ombak, dan menyerbu lagi ke arah Bai Qi. Bai Qi pun tanpa menunggu, melepaskan Labu Roh Iblis untuk menyerapnya. Di dalam Labu Roh Iblis itu, satu tebasan Pedang Hantu-Dewa yang Angkuh memotongnya; ia berubah menjadi genangan air dan tak sanggup berkumpul lagi.

Bai Qi hanya sempat merasakan kendalinya atas Perahu Emas Penolak Bahaya bergejolak lagi. Dari tengah air yang mendidih, sesuatu yang sangat raksasa pun terangkat ke udara. Selama ini makhluk yang pernah dilihat Bai Qi takkan seberapa dibandingkan dengannya.

Ia bahkan tak bisa melihat seluruh bentuk naga itu, dan tak berani memandangnya dengan kesadaran rohaninya. Bagian punggungnya saja sudah berpanjang puluhan li, tiap sisiknya lebih dari seratus zhang. Lalu dari kejauhan tampak kepala naga setinggi gunung menganga ke arah Perahu Emas Penolak Bahaya, lalu mengisapnya ke perutnya.

Bai Qi menjatuhkan tiga Jimat Bumi Keras Pengacau Roh secara berturut. Perlahan, perahu itu berhasil terlindungi sementara. Ketika masuk ke tubuh naga itu, Bai Qi dan kawan-kawannya tak melihat tenggorokan atau perut biasa; sebaliknya mereka menabrak hamparan awan. Dari awan itu perahu jatuh menelungkup ke bumi. Di bawahnya, hamparan daratan luas, dan tidak jauh lagi berdiri sebuah kota.

Kota itu padat penduduk; lalu-lalang orang banyak, kebanyakan praktisi pemurnian qi. Dari tubuh naga itu, jika benar naga berumur ratusan ribu tahun atau lebih, entah berapa jiwa yang telah ditelannya.

Mereka yang tertelan itu menjelma menjadi sebuah dunia kecil di dalam diri naga. Orang-orang itu tak pernah menyadari asal-usulnya, terus berlatih seolah hidupnya sebelumnya dan tetap menanti puncak keabadian.

Saat Perahu Emas Penolak Bahaya terjungkal dari awan, seorang praktisi pemurnian qi di tanah menuding ke langit berteriak, “Ada lagi iblis yang turun!”

Bai Qi tersenyum getir. Di mata para praktisi itu, perahu yang ia kendalikan telah tampak sebagai iblis yang datang untuk menelan warga kota.

“Bai, apa yang harus kita lakukan?” Zhan kini paham dirinya dan Bai Qi berjauhan dalam kemampuan. Kali ini mereka masuk perut Naga Syen, seharusnya berarti mati pasti. Namun selama Bai Qi ada, ia tak tahu mengapa masih menyisakan satu benang harapan.

“Tak apa. Kalian bersembunyi di dalamnya. Jangan keluar.”

Bai Qi lalu mengubah Perahu Emas Penolak Bahaya menjadi sebuah jimat giok dan menjatuhkannya ke awan berwarna. Setelah ia menetralisirnya, ia pun menjadi setengah pemiliknya—sekadar selama ini ia tak berani mengaku mengendalikan. Lagi pula kapal itu telah menyatu dengan Jimat Papan Catur Langit Bertabur Bintang, sehingga kendalinya semakin luwes di tangannya.

Awan itu berasal dari qi kabut Naga Syen; dari dalamnya, apa pun di luar tak terlihat.

Bai Qi lalu mencabut sendiri Tombak Sisik Terbalik-nya. Di atas kepalanya melayang Labu Roh Iblis, dan pada saat yang sama ia melepaskan Pedang Hantu-Dewa yang Angkuh sambil menyambar ke tanah.

Di daratan, ratusan pasukan mantra dan pasukan Jalan Tao berterbangan lurus ke arahnya.

Bai Qi kemudian memanggil lagi tombak Tujuh Bintang Penjinak Iblis. Selesai menahan serangan dari udara, ia mengabaikan semuanya, lalu aktifkan Labu Roh Iblis untuk menyerap para praktisi pemurnian qi yang datang.

Begitu mereka tersedot ke dalam Labu itu, para serbu itu pusing hebat, dan di lidah bilah Pedang Hantu-Dewa mereka jatuh seketika.

Dalam sekejap, dari sekumpulan yang menerjang, tersisa lima orang saja. Kelimanya bertaraf Jindan, dan Labu Roh Iblis tak sanggup menyerap kelima-tiganya sekaligus.

Wajah Bai Qi justru memancarkan suka yang tak tersembunyi. Jika Naga Syen membebaskan seluruh ilusi ini sekaligus, menebas mereka tentu tak sesederhana ini. Kini berada di perut naga, ini malah seolah berkah langit.

Saat kakinya menjejak tanah, ia dengan kasar menancapkan Tombak Sisik Terbalik ke bumi. Barulah tombak itu membuka mulut dan menyerap rakus.

Naga adalah jenis naga sejati, dan memang ia mewarisi rasa gentar pada naga surgawi. Tombak Sisik Terbalik sengaja memancarkan aura naga surgawi itu, menekan keras perlawanan qi kabut di tubuh Naga Syen, lalu menyedot esensi darah naga ke dalam tombak secara liar.

Setelah Tujuh Bintang Penjinak Iblis menahan serangan di udara, dan sesaat praktisi-praktisi itu terserap Labu Roh Iblis, tombak itu pun kembali ke tangan Bai Qi.

Saat memegangnya, Bai Qi teringat sesuatu. Ia masih memiliki Dua Belas Patung Emas Qinhuang, benda yang hanya dapat dibuka dengan darah naga. Bagaimanapun Naga Syen ini tetaplah varian naga sejati; darahnya tentu mesti memberi efek sekian.

Di mata lima praktisi tahap Jindan itu, Bai Qi nampak sebagai iblis besar berjanggut merah dan wajah kebiru-biruan, bibirnya masih berurat darah. Di mata mereka, Labu Roh Iblis itu justru seperti iblis terbang yang dengan satu hembusan mulutnya menyeret seluruh rekan ke dalam.

Dari kota terus saja orang berdatangan. Lima orang itu malah mundur perlahan.

Di kota naga ini, makhluk iblis yang jatuh dari awan kerap terjadi. Biasanya ada yang datang untuk menyergap. Menyerap tenaga iblis membuat kemajuan tahap sangat berarti, tetapi menghadapi naga macam ini—iblis sedemikian besar—adalah pertama kalinya terlihat.

(Bersambung)