Bab Sembilan Puluh: Memberi Petunjuk

Putri Sulung yang Angkuh Daun yang penuh kasih dan kenangan 2407kata 2026-03-05 15:37:00

Setelah kembali ke kediaman keluarga bangsawan, Situjiao memperlihatkan satu per satu hadiah dari para tetua yang diterimanya kepada Nyonya Han. Saat Nyonya Han melihat gelang batu delima pemberian Putri Agung serta gelang giok sederhana dari Nyonya Chen, matanya sempat menunjukkan keterkejutan. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu kepada Situjiao, namun akhirnya hanya diam.

Nyonya Han tidak berkata apa-apa, hanya meminta Situjiao menyimpan barang-barang itu baik-baik. Soal ingin memakainya atau tidak, semuanya diserahkan pada keinginan Situjiao.

Ekspresi Nyonya Han tak luput dari pengamatan Situjiao. Rupanya gelang giok dari Nyonya Chen itu, sama seperti gelang batu delima dari Putri Agung, pasti memiliki latar belakang tertentu.

Soal latar belakang macam apa, Situjiao tak ingin menyelidikinya saat ini, karena ia tahu kedua orang itu tulus baik kepadanya.

Hari-hari berikutnya, karena Nyonya Kecil Lin dikenakan tahanan rumah dan Situjin dikurung, sedangkan Nyonya Tua yang enggan memberikan hak mengatur rumah tangga pada Nyonya Han sibuk sendiri mengatur urusan rumah, Situjiao justru hidup cukup tenang di kediaman bangsawan.

Rutinitas harian Situjiao sangat teratur. Ia bangun pagi untuk berlatih bela diri selama satu jam, lalu setelah membersihkan diri, ia pergi ke Taman Mei menemani Nyonya Han sarapan.

Sejak Situjiao pulang ke kediaman bangsawan, makanan Nyonya Han selalu disesuaikan dengan permintaan Situjiao.

Setelah sarapan, ibu dan anak itu berjalan-jalan di Taman Mei untuk membantu pencernaan.

Sisanya, kadang Situjiao kembali ke Paviliun Qingyun untuk belajar ilmu kedokteran, atau tetap di Taman Mei menemani Nyonya Han berbincang. Mereka juga membicarakan musik, catur, sastra, dan melukis, terkadang membuat sulaman bersama. Keharmonisan dan kebahagiaan begitu terasa di antara ibu dan anak itu.

Sementara itu, Situyang telah masuk ke Pasukan Penjaga Kerajaan, kini dilatih langsung oleh Yang Lingshao dan Han Pengcheng, yang telah menjabat sebagai pemimpin utama dan wakil. Ia tinggal dan makan di barak, sehingga hampir tidak pernah terlihat di rumah selama beberapa hari ini.

Mengenai urusan rumah tangga, Nyonya Tua tentu saja tidak rela jika sepenuhnya dikuasai oleh Nyonya Han. Maka, dalam kondisi Nyonya Kecil Lin dikenakan tahanan rumah, Nyonya Tua turun tangan langsung mengatur urusan dalam kediaman bangsawan.

Namun, setelah bertahun-tahun tak mengurus rumah, baru beberapa hari saja, masalah mulai bermunculan di sana-sini. Singkatnya, bagian dalam kediaman bangsawan menjadi kacau balau.

Dari Paviliun Cian, kerap terdengar suara marah-marah Nyonya Tua dan pecahan keramik.

Situjin yang dikurung tak mendapat kabar apa pun dari luar. Menjelang Festival Musim Gugur, ia di Paviliun Keindahan benar-benar seperti kucing di atas genteng, resah dan gelisah. Namun tanpa surat pembebasan dari Situkong, meski ia melompat-lompat setinggi apa pun, tetap saja tak berguna.

Kali ini, tampaknya Situkong benar-benar marah. Nyonya Tua sudah berkali-kali memohon, bahkan tak segan menekan Situkong atas nama bakti anak, namun hati Situkong tetap tak luluh, hukuman Situjin tetap berjalan.

Sebaliknya, Paviliun Bunga Teratai tempat Nyonya Kecil Lin justru mendadak sunyi senyap. Meski Situkong hanya memberlakukan tahanan rumah pada Nyonya Lin dan tidak melarang para pelayan keluar masuk, namun dikabarkan kali ini Nyonya Kecil Lin sangat ketat mengatur para pelayannya, melarang siapa pun keluar kecuali benar-benar perlu. Bahkan Situaan pun ikut dikurung di sana.

Tingkah laku Nyonya Kecil Lin yang aneh membuat Situjiao waspada. Segala sesuatu yang tidak wajar pasti ada sebabnya.

Paviliun Qingyun tetap tenang dan damai seperti biasa.

Saat itu, Nenek Li baru saja pulang dari kediaman Keluarga Bangsawan Negara, setelah melakukan akupunktur pada Nyonya Tua di sana. Sambil memeriksa catatan di tangannya, ia berkata pada Situjiao yang sedang duduk membaca kitab pengobatan di atas dipan lembut, “Nona, dua kali lagi akupunktur untuk Nyonya Tua Bangsawan Negara, seharusnya sudah cukup. Selanjutnya tinggal perawatan perlahan. Resep ramuan yang Nona berikan sudah saya serahkan langsung kepada Nyonya Besar. Para nyonya tua yang lain juga sudah mendapat giliran.”

Beberapa hari terakhir, Nenek Li jarang menemani Situjiao. Selain menangani kesehatan Nyonya Tua di Paviliun Cian, ia juga menerima undangan dari para nyonya tua yang Situjiao temui hari itu untuk memberikan perawatan dan akupunktur di luar rumah.

Awalnya, Nyonya Tua Kediaman Bangsawan sangat marah, namun setelah tahu itu kehendak Putri Agung, ia terpaksa mengizinkan Nenek Li keluar rumah.

“Giliran berikutnya setelah Festival Musim Gugur. Ibu pasti sudah sangat lelah. Dua hari ke depan, istirahatlah dulu. Untuk sementara, jangan ke Paviliun Cian lagi,” ujar Situjiao dengan mata yang menyiratkan rasa iba. Ia tahu betul, Nenek Li sudah bekerja sangat keras demi dirinya.

“Tak apa, Nyonya Tua tetap harus saya kunjungi. Kemarin beliau mengeluh sebelah tubuhnya terasa kurang nyaman. Saya sebaiknya tetap memeriksa keadaannya,” kata Nenek Li, merasa hangat di hati atas perhatian Situjiao, namun ia tetap mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Apalagi sebagai seseorang yang berlatih bela diri, kelelahan bisa diatasi dengan meditasi sebentar.

“Sebelah tubuh terasa kurang nyaman?” Situjiao mengerutkan alisnya, menatap Nenek Li dan bertanya.

“Andaikan Nyonya Tua mau membiarkan Nona memeriksa denyut nadinya, pasti lebih baik. Saya sendiri merasa agak ragu. Denyut nadinya agak tersendat, tapi saya tidak berani memastikan penyebabnya,” jawab Nenek Li, alisnya juga mengerut.

Situjiao mengetuk-ngetukkan jari kelingkingnya di atas meja, suara ketukan yang teratur itu seolah punya irama sendiri, sampai tiba-tiba berhenti. Suaranya yang bening terdengar, “Kalau begitu, saat Ibu ke Paviliun Cian, lakukanlah akupunktur pada Nyonya Tua, dan perhatikan khusus beberapa titik ini…”

Setelah Situjiao menyebutkan satu per satu titik yang dimaksud, wajah Nenek Li yang semula penuh pertimbangan langsung berseri, ia mengangguk berkali-kali.

Memang, Nona selalu punya cara. Dengan petunjuk ini, pasti bisa menahan perkembangan penyakit Nyonya Tua untuk sementara waktu.

Namun, usia Nyonya Tua sudah lanjut. Jika tetap keras kepala memegang kendali rumah tangga, dikhawatirkan penyakitnya akan memburuk. Semoga pada saat itu, harapan Nona sudah tercapai.

Setelah memberi beberapa petunjuk pada Baimei dan Qingzhu, Nenek Li pun membawa kotak obatnya menuju Paviliun Cian.

“Nona, dua hari lagi sudah Festival Musim Gugur. Apakah benar Nona akan ikut lomba berkuda dan memanah?” tanya Baimei sambil merapikan pakaian berkuda yang dijahit sendiri oleh Situjiao, raut wajahnya tampak cemas.

“Tentu saja. Keluarga kita ini bangsawan militer. Sebagai putri dan putra bangsawan, lomba berkuda dan memanah seperti ini sudah sewajarnya diikuti. Kalau tidak, apa kata orang tentang harga diri keluarga kita?” Belum sempat Situjiao menjawab, Qingzhu yang ceria sudah menyahut terlebih dahulu.

“Tapi tubuh Nona…” Baimei menatap tubuh Situjiao yang ramping dengan kekhawatiran.

“Tenang saja. Meski tubuhku agak kurus, dibandingkan para nona yang tumbuh di ibukota, aku sama sekali tak kalah,” jawab Situjiao sambil tersenyum lebar.

“Kakak Baimei memang suka terlalu khawatir. Setahun belakangan, kesehatan Nona jauh membaik. Bukan hanya para nona manja, bahkan aku sendiri belum tentu bisa melawan Nona,” ujar Qingzhu dengan tatapan iri pada Situjiao.

Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Qingzhu sangat paham kemampuan bela diri Situjiao saat ini.

Ia mulai berlatih bela diri hampir di usia yang sama dengan Situjiao, tapi bakatnya jauh di bawah. Meskipun Situjiao baru benar-benar serius berlatih setahun terakhir, kini Qingzhu sudah tak mampu mengimbangi.

Baimei lebih lemah lagi. Ia memang tidak berminat mendalami bela diri, hanya menguasai sedikit teknik dasar untuk menjaga diri. Menghadapi pelayan biasa, tiga atau lima orang sekaligus pun Baimei masih sanggup, tapi kalau lawannya orang yang punya kemampuan bela diri, Baimei akan jadi yang terlemah di antara para pengikut Situjiao.

Itulah sebabnya, setiap pergi keluar, Situjiao biasanya hanya membawa Nenek Li dan Qingzhu bersamanya.

(Bersambung...)