Di zaman sekarang, perjalanan lintas waktu sedang menjadi tren. Ia pun mengalami sendiri hal itu dan terbangun sebagai putri sulung dari keluarga bangsawan. Segala peran ada; mulai dari putri sah istri utama, selir, adik tiri, sepupu perempuan, hingga kakak sepupu lelaki, semuanya lengkap. Awalnya ia mengira dirinya masuk ke dalam kisah pertarungan intrik rumah tangga, namun segera tersadar keluarganya ternyata terlibat dalam perebutan kekuasaan di istana. Rupanya ini adalah cerita penuh siasat dan ambisi politik. Tak lama berselang, ayah dan kakeknya dinyatakan bersalah dan dihukum buang, seluruh keluarga pun harus pulang ke kampung halaman. Baiklah, sekarang kisah ini berubah menjadi cerita bertani di desa. Tapi tunggu, apakah ia juga harus ikut diasingkan? Sebenarnya, ini semacam kisah yang benar-benar menyebalkan, bukan?!
Api menjilat kain tirai sutra berwarna keemasan seperti daun musim gugur, menyebar perlahan dan dalam sekejap telah melahap hingga ke balok-balok istana.
Seorang wanita berkebaya istana yang megah memandang adegan itu dengan tenang, lalu mendekatkan lilin yang menyala di tangannya ke tirai di sisi lain, memperluas lautan api.
Di belakangnya berdiri dua pelayan istana yang memegang kendi tembaga; yang satu lebih tua, menunduk dalam diam, sementara yang muda gemetar hebat dan terus menangis tersedu-sedu. Sang putri mahkota tetap tak tergoyahkan, “Menangis untuk apa? Cepat, siramkan minyak itu! Api ini terlalu lambat menjalar.”
Pelayan muda itu menangis keras dan jatuh lemas ke lantai. “Ibunda Putri Mahkota, mengapa Anda harus melakukan ini? Asal Paduka Raja tahu...”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pelayan yang lebih tua sudah membentak tajam, “Diam! Kini junjungan kita dalam bahaya, bagaimana kau tega berusaha menyelamatkan diri sendiri?!”
Putri mahkota menoleh padanya, memberi isyarat agar berhenti, lalu kembali menatap pelayan muda itu, suaranya lembut namun tegas, “Aku tahu kau takut, tapi aku pun tak punya pilihan lain. Sekarang Paduka Raja sakit parah, gerbang Istana Qianqing terkunci rapat, siapa pun tak bisa masuk, dan yang berjaga di sana adalah orang-orang keluarga Feng. Putra mahkota sudah terbunuh, para pemberontak sewaktu-waktu bisa menyerbu istana timur. Jika aku tidak bertindak tegas, dan akhirnya tertangkap, mungkin kematian justru lebih baik. Lebih baik dibakar habis, setidaknya bisa tetap bersih.”
Tangisan pela