Bab Seratus Empat Belas: Peringatan
Karena perhelatan akbar itu sebentar lagi dimulai, selain Kaisar dan para selir di istana, hampir semua orang telah menempati posisi masing-masing. Rombongan Kediaman Marquis Anning pun segera diarahkan ke tempat duduk yang telah disediakan bagi mereka.
Dalam perhelatan berkuda dan memanah pada Festival Pertengahan Musim Gugur kali ini, setelah memasuki arena dari pintu masuk, sisi kiri diperuntukkan bagi para tamu pria, sedangkan sisi kanan bagi para tamu wanita.
Panggung tinggi di tengah arena tentu saja menjadi tempat Kaisar dan para wanita istana. Dari sana, pandangan adalah yang terbaik, sehingga seluruh sudut arena dapat terlihat dengan jelas.
Kemunculan mendadak Nyonya Han, yang selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah keluar rumah, menimbulkan kehebohan di antara para tamu wanita.
Keributan yang tiba-tiba pecah di sana menarik perhatian Situ Kong, penyelenggara perhelatan tersebut.
Kaisar menyerahkan perlombaan berkuda dan memanah kali ini kepada Kementerian Adat sebagai penyelenggara, dengan bantuan Kementerian Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum. Keamanan arena dipercayakan kepada pasukan pengawal istana, sedangkan Situ Kong ditunjuk langsung oleh Kaisar sebagai pejabat penanggung jawab. Karena itu, bahkan sebelum fajar menyingsing, ia telah tiba di arena dan membawa sejumlah bawahannya untuk memeriksa kembali seluruh persiapan.
Ketika dari kejauhan ia melihat Nyonya Han di antara para tamu wanita, matanya hampir terbelalak.
Benarkah itu Nyonya Han? Benarkah itu wanita yang selama dua belas tahun penuh tidak pernah muncul di hadapan umum?
Namun, seberapa sering pun ia mengedipkan mata, wanita yang berdandan anggun itu tetap berada di sana, tersenyum lembut sambil berbasa-basi dengan para bangsawan wanita di sekitarnya. Meskipun tubuhnya tampak kurus dan ringkih, ia tetap terlihat anggun serta berwibawa.
Dialah istrinya, orang yang semestinya menjadi manusia terdekat baginya. Namun kini, wanita itu seolah berada sangat jauh darinya.
Situ Kong ingin mendekat, tetapi kedua kakinya seakan terpaku ke tanah dan tak mampu melangkah.
Mungkin karena sengaja diatur oleh Situ Kong, tempat duduk para wanita dari Kediaman Marquis Anning berada tidak jauh dari Kediaman Adipati Jianguo dan Kediaman Jenderal Agung. Saat itu, Nyonya Adipati Jianguo dan istri Jenderal Agung Han, yang semula telah duduk, dengan penuh semangat bangkit dari tempat masing-masing.
Terutama Nyonya Chen, yang sama sekali tidak lagi memedulikan sikap anggun seorang bangsawan wanita. Ia hampir berlari kecil menghampiri Nyonya Han, lalu memeluk erat wanita kurus yang nyaris tak berdaging itu.
Nyonya Fang memang tertinggal dua langkah di belakang Nyonya Chen, tetapi ia pun mengesampingkan segala kepantasan. Maka, ketiga sahabat masa gadis yang telah belasan bahkan puluhan tahun tidak berjumpa itu pun berpelukan erat. Air mata berkilauan di sudut mata mereka, dan mereka hanya mampu terisak tanpa sanggup mengucapkan kata-kata. Kegembiraan mereka tak terbendung.
Situ Jiao tetap berdiri dengan tenang di sisi ketiga tetua itu. Ia tersenyum menyaksikan mereka, dengan genangan air mata yang sama di matanya.
Para bangsawan wanita dan gadis bangsawan di tempat duduk tamu wanita, baik yang mengenal Nyonya Han maupun tidak, mulai berbisik-bisik atau saling bertanya. Bagaimanapun juga, Nyonya Han dan putrinya telah menjadi pusat perhatian semua orang.
Sementara itu, beberapa sahabat dekat Situ Jin, yang selama ini selalu menjadi pusat perhatian, sebagian besar hanya meliriknya sekilas sebelum mengalihkan tatapan penuh selidik kepada Situ Jiao. Akibatnya, Situ Jin benar-benar berubah menjadi sekadar latar belakang.
Tak lama kemudian, dengan dibantu para sahabat dan kakak iparnya, Nyonya Han kembali duduk. Tiga sahabat lama yang telah bertahun-tahun tidak berjumpa itu tentu memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Karena itu, susunan tempat duduk pun berubah.
Semula Situ Jiao hendak duduk bersama Nyonya Han, tetapi Han Xiuya segera menarik tangannya dan membawanya duduk di sisi lain. Kedua gadis itu lalu berbisik-bisik, jelas menunjukkan betapa dekat hubungan mereka.
Semua yang terjadi di hadapannya membuat Situ Jin sangat iri dan dipenuhi kebencian. Semua kemeriahan dan perhatian itu semestinya menjadi miliknya. Namun kini seluruh tatapan justru direbut oleh anak setan itu dan ibunya yang sakit-sakitan. Bagaimana mungkin ia menerimanya dengan lapang dada?
Tidak. Ia harus memikirkan cara agar mereka dipermalukan!
Ekspresi Situ Jin yang menggertakkan gigi dan melotot marah benar-benar serupa dengan Nyonya Tua, yang juga memandang kejayaan Nyonya Han dan Situ Jiao dengan hati yang dipenuhi ketidakrelaan. Melihat mereka dari kejauhan, hati Situ Kong tersentak dan hawa dingin perlahan menjalar dari dasar hatinya.
Tidak bisa. Ia tidak boleh membiarkan kedua orang itu melakukan sesuatu yang buruk. Hari ini sama sekali tidak boleh terjadi masalah!
Sambil berpikir demikian, Situ Kong segera menoleh dan diam-diam memberikan beberapa instruksi kepada Kepala Pelayan Lin yang selalu berada di sisinya.
Kepala Pelayan Lin tidak berani lengah. Ia segera menerobos kerumunan dan menemukan Hongshuang serta Yulan yang sedang menunggu di luar, di dekat kereta. Dengan suara rendah, ia menyampaikan beberapa patah kata kepada mereka.
Setelah berdiskusi dengan Hongshuang, Yulan meminta Hongshuang, yang lebih akrab dengan Bibi An, pergi ke tempat duduk Kediaman Marquis Anning. Di sana, Hongshuang menarik Bibi An ke samping dan membisikkan sesuatu.
Bibi An mengarahkan pandangan ke tempat duduk para tamu pria di kejauhan. Tak lama kemudian, ia menemukan Situ Kong yang sedang memperhatikan sisi ini. Setelah menerima tatapan peringatan dari Situ Kong, ia akhirnya menyadari pula perubahan wajah Nyonya Tua dan Situ Jin.
Hati Bibi An segera diliputi kecemasan. Bahkan demi keselamatan dirinya sendiri, ia tidak boleh membiarkan Nyonya Tua dan Situ Jin menimbulkan masalah. Karena itu, ia lekas membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Nyonya Tua, sembari memberi isyarat dengan pandangan ke dua tempat.
Yang pertama adalah posisi Situ Kong. Yang kedua adalah satu-satunya tempat yang masih kosong di tengah arena—tempat tertinggi dan terbaik, yang kelak akan digunakan untuk tujuan penting. Isyarat itu akhirnya berhasil membuat pikiran Nyonya Tua sedikit jernih.
Nyonya Tua menatap Situ Kong dalam waktu lama. Mungkin karena jarak di antara mereka terlalu jauh, kali ini Situ Kong tidak menghindari tatapannya. Tatapan ibu dan anak itu pun beradu dari kejauhan.
Ketika Situ Kong hampir menyerah, Nyonya Tua akhirnya mengalihkan pandangan. Ia menunduk dalam diam, jemarinya bergerak cepat pada untaian tasbih yang selalu dibawanya ke mana pun.
Setelah sekian lama, Nyonya Tua akhirnya mengangkat kepala. Namun ketika melirik ke samping, ia melihat Situ Jin sudah mulai gelisah dan hendak bertindak, sehingga hatinya seketika menegang.
“Jin’er, duduklah dengan baik. Sekarang kau seharusnya sudah memahami semuanya, bukan? Kedua orang itu memiliki dua gunung besar untuk dijadikan sandaran. Sebesar apa pun rasa tidak rela yang kau rasakan hari ini, kau harus menekannya. Jika kau menimbulkan masalah di hadapan Kaisar, Nenek sama sekali tidak akan mampu menyelamatkanmu. Jangan salahkan Nenek karena tidak memperingatkanmu!”
Nyonya Tua memiringkan tubuh, berpura-pura akrab sambil merapikan rambut di pelipis Situ Jin yang tertiup angin. Dengan suara penuh ancaman, ia memperingatkan cucunya tepat di telinganya.
Peringatan Nyonya Tua terdengar di telinga, sedangkan wajah Situ Jiao dan Nyonya Han yang tersenyum cerah tampak di depan mata. Situ Jin sangat membenci mereka hingga hampir mematahkan giginya sendiri. Ia mengepalkan tangan erat-erat dan menusukkan kuku ke telapak tangan, menggunakan rasa sakit yang menusuk itu untuk meredakan amarah di dalam dada. Wajahnya yang sedikit tertunduk dipenuhi kebengisan dan ketidakrelaan.
Mengapa anak setan itu bisa memiliki segalanya dengan begitu mudah? Mengapa? Mengapa?!
Namun, sebesar apa pun rasa tidak relanya, apa yang bisa dilakukan Situ Jin? Siapa yang menyuruhnya tidak terlahir dari rahim istri utama? Siapa yang menyuruh ibunya rela menjadi selir tanpa dukungan kuat di belakangnya?
Diiringi suara serak dan melengking yang terdengar seperti suara bebek jantan, Kaisar Nanling dan Ibu Suri muncul dalam pandangan semua orang, diikuti oleh para selir, pangeran, dan putri. Semua orang segera berlutut dan memberi hormat.
Di tengah seruan, “Semoga Kaisar panjang umur, panjang umur, panjang umur!” “Semoga Ibu Suri hidup seribu tahun!” dan “Semoga Permaisuri hidup seribu tahun!”, Kaisar Xuanyuan Sheng bersama Permaisuri Li menopang Ibu Suri dan membantunya menaiki panggung tinggi dengan langkah perlahan.
Baru setelah Kaisar, Ibu Suri, Permaisuri, serta seluruh wanita istana duduk di panggung, Xuanyuan Sheng mengangkat tangannya. Suaranya yang dalam dan lantang pun menggema.
“Bangkitlah, para pejabat.”
Setelah terdengar suara gaduh dari orang-orang yang bangkit dan kembali ke tempat masing-masing, arena yang semula riuh oleh suara manusia mendadak menjadi sangat tenang. Hanya sesekali terdengar ringkikan kuda dari tepi arena.
Xuanyuan Sheng menyampaikan pidato singkat namun penuh semangat, lalu mengumumkan bahwa perlombaan berkuda dan memanah resmi dimulai.
(Bersambung.)