Jilid Satu: Terbitnya Rembulan Bab Lima Puluh Tujuh: Musim Semi di Empat Penjuru
Salju tebal turun dari utara ke selatan, menyelimuti seluruh wilayah Beichang. Dunia berubah menjadi lautan putih, seindah puisi dan lukisan. Namun di antara putihnya salju itu, selalu ada coretan merah dari kertas doa musim semi yang menonjol, menghadirkan suasana meriah yang khas.
Di dalam Kota Empat Penjuru, di depan sebuah rumah kecil, berdiri sebatang pohon willow yang tinggi. Ranting-rantingnya yang jarang dipenuhi lapisan salju dan es yang tebal. Meski menanggung beban berat, pohon itu tetap diam, membiarkan angin dan salju menerpa, mahkotanya yang lebat tak sedikit pun merunduk.
Seorang pemuda mengenakan jubah hijau tua mendorong pintu halaman dengan kuat. Salju menumpuk terbelah oleh daun pintu kayu, lalu berkumpul kembali di kedua sisi. Pemuda itu melangkah ke luar, membentangkan payung kertas di atas kepalanya.
Lengan kirinya menjinjing keranjang bambu, sementara tangan kirinya yang lain dengan hati-hati membawa semangkuk lem hangat yang masih mengepul. Di dalam keranjang, tergulung selembar panjang kertas merah berkualitas tinggi dan sebuah kuas besar bulu kambing yang murah dan sudah mulai aus. Beberapa hari lalu, ia telah menulis banyak doa musim semi, yang baginya merupakan penghasilan lumayan.
Namun, di wajahnya tak tampak kegembiraan. Ia pun tak berminat menikmati pemandangan sepanjang jalan, di mana banyak karyanya telah menempel di pintu-pintu rumah. Ia justru berjalan sambil terus berpikir dalam-dalam.
Hampir seluruh kota telah menempelkan doa musim semi. Di depan rumah-rumah, kertas merah terang bertuliskan kaligrafi tebal dan indah, seelok goresan para maestro.
Semuanya adalah hasil karyanya. Orang-orang mencari jasanya bukan hanya karena ia paling piawai menulis, meski memang demikian adanya. Namun, di kota ini, yang benar-benar mampu mengapresiasi kualitas kaligrafinya hanya dua atau tiga orang, dan mereka telah pergi. Tak ada lagi mata tajam yang bisa mengenali mutiara.
Pemuda itu pernah merasakan pahitnya hidup, sehingga tarif yang ia pasang tidak seperti sebagian penulis doa musim semi lain yang meminta mahal dan tak mau tahu. Bahkan, keluarga-keluarga miskin pun sering ia beri secara cuma-cuma.
Menurutnya, “hematlah tinta, lama-lama pasti balik modal.” Dan itu memang benar. Bertahun-tahun, setiap kali Tahun Baru tiba, ia selalu mendapat penghasilan lumayan dari para warga, entah karena ingin membantu, menghemat uang, atau sekadar menunda pembayaran.
Tahun lalu, hanya butuh empat atau lima hari bekerja keras, setelah itu pesanan pun sepi. Namun tahun ini, ia harus bekerja hingga larut malam selama lebih dari dua minggu.
Doa musim semi adalah kebutuhan utama, tak peduli kaya atau miskin. Bagi warga kota, makan malam Tahun Baru boleh sederhana, baju baru pun tak wajib, tapi doa musim semi harus diganti dengan yang baru dan segera ditempel.
Banyak yang memakai jasanya bukan sekadar karena murah, namun juga ingin mengambil peruntungan dari namanya.
Musim semi tiba, segala sesuatu mulai tumbuh.
Entah mengapa, orang-orang merasa doa musim semi yang ia tulis mengandung sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Contohnya, di kedua sisi pintu rumah tiga lantai, tertempel tulisan: “Burung kenari bersenandung di pohon willow hijau, burung layang-layang menjahit angin musim semi.” Gadis pemilik rumah merasa kata “menjahit” di sana bukan kata biasa, sehingga ia memberi pemuda itu beberapa koin tambahan.
Bukan hanya gadis itu yang merasakannya, warga lain pun punya firasat serupa, meskipun sulit mengungkapkan. Namun, hanya gadis baik hati itulah yang rela memberi lebih.
Liu Chunseng kembali sadar dari lamunannya, memandang kedua sisi pintu rumah tiga lantai itu, tetap tak menemukan keistimewaan yang dimaksud orang-orang. Ia hanya teringat betapa lelahnya dirinya usai menulis, tak ada yang berbeda selain rasa penat.
Ia pun tak memikirkannya lagi. Beban pekerjaan sebanyak itu, wajar jika merasa letih.
Yang terus ia pikirkan adalah sepasang doa musim semi lain. Ya, yang masih belum ia tulis dan masih tersimpan di keranjang bambu. Ia bukan malas, hanya saja belum menemukan kata-kata yang pas.
Kini, hanya tersisa satu rumah kecil di barat kota dan sebuah rumah besar di timur kota yang belum ditempeli doa musim semi. Ia teringat semalam, Yu Ming datang menendang pintu rumahnya, menanyakan kapan doa musim semi untuk rumahnya selesai. Pemuda itu hanya bisa tertawa getir.
Benar saja, melihat anak itu menunggunya di ujung gang, Liu Chunseng hanya bisa menghela napas.
“Liu! Ini sudah malam Tahun Baru, ibuku bilang walau rumah kosong, doa musim semi tetap harus dipasang!” kata Yu Ming dengan nada tinggi, sambil bertolak pinggang menatap Liu Chunseng.
Liu Chunseng melangkah mendekat, memajukan payung kertas untuk melindungi Yu Ming dari salju yang turun, mengulurkan keranjang dan mangkuk lem, lalu berkata, “Ya, aku akan segera menulisnya.”
Melihat itu, bibir Yu Ming yang semula cemberut perlahan melunak. Ia mengambil keranjang dan mangkuk, berjalan di depan, sama sekali tak peduli bila salju membasahi pakaiannya.
Selama masih di rumah, anak-anak tak pernah takut badai atau salju, bahkan semakin bergembira. Namun, tahun ini ia merasa sedikit sedih karena tak ada yang menemaninya bermain perang salju.
Di kota ini, saat menempel doa musim semi, yang lama tak perlu dicopot. Cukup ditimpa dengan yang baru. Ada kepercayaan bahwa tahun baru menutupi tahun lama; apapun yang terjadi tahun ini, harapan untuk tahun mendatang selalu lebih baik. Maka, di banyak pintu rumah, kertas merah yang telah pudar tertutup lapisan baru.
Kolam kecil di sana sudah membeku sejak malam kemarin, permukaannya tertutup salju tebal. Begitu salju mencair dan es masih tersisa, Yu Ming akan menggulung lengan baju, mengambil batu dan tanah untuk dilempar ke sana, tak pernah merasa bosan seharian penuh.
Musim dingin tahun lalu, Xu Chang’an sering berkata dengan leher terbungkuk bahwa Yu Ming benar-benar membosankan, tapi setelah ikut melempar beberapa batu, ia pun tak lagi merasa bosan.
Liu Chunseng berjalan di bawah payung kertas, memperhatikan dua rumah berdampingan. Satu rumah sudah ditempeli doa musim semi.
Baris atas bertuliskan: “Gerimis musim semi membasahi segala sesuatu.”
Baris bawah: “Bunga plum merah menghiasi seribu gunung.”
Sepasang matanya yang lembut tampak puas. Ia cukup bangga dengan hasilnya. Ia teringat, saat Yu Ming datang mengambil tulisan itu, bocah itu dengan malu-malu berkata bahwa uang yang diberikan ibunya sudah dipakai membeli ubi panggang, dan bertanya apakah boleh utang dulu. Mengingat Yu Ming tadi hampir saja memarahinya di gang, rasanya dulu ia harusnya mengadukan hal itu ke ibunya, biar diberi pelajaran.
Ia menggeleng pelan, lalu memandang ke rumah sebelah, yang lebih bersih, dengan dinding pendek dari tanah kuning yang polos.
Itulah rumah Xu Chang’an.
Kini, Liu Chunseng pun enggan masuk sekadar melihat-lihat. Sebelum Xu Chang’an pergi, rumah itu memang tak bisa dibilang bersih, tapi masih layak huni. Namun sejak Xu Chang’an ikut sang guru ke barat, rumah itu jadi berantakan karena ulah Yu Ming.
Dulu, saat penghuni lama menjual rumah itu, semua doa musim semi lama di pintu dicopot agar tampak rapi. Tahun lalu, Xu Chang’an yang baru pindah pun malas menempel yang baru, bahkan menolak tawaran Liu Chunseng menuliskan untuknya.
Itulah sebabnya, tahun ini Liu Chunseng bingung harus menulis apa.
Yu Ming mengeluarkan kunci, membuka pintu, menendang sembarang kursi yang tergeletak, lalu mengajak Liu Chunseng masuk ke dalam, meletakkan keranjang dan mangkuk lem di meja yang agak kotor. Ia merentangkan kertas merah panjang di atas meja.
Dengan satu jari, ia menunjuk kertas itu, wajahnya jelas berkata: “Ayo, tulis!”
Liu Chunseng hanya bisa tersenyum pahit. “Kertasnya harus dipotong dulu.”
Yu Ming mengangguk, masuk ke dapur, mengambil pisau dapur yang sudah tumpul, lalu meletakkannya di meja.
Liu Chunseng menatap pisau itu, sudut matanya berkedut.
“Kau buat apa saja pakai pisau ini?”
“Anak itu selalu bilang mau membelah gunung. Kataku, otaknya pasti kebakar, pisau ini saja tak bisa membelah batu, apalagi pedangnya yang belum diasah. Mana mungkin bisa membelah gunung.”
Liu Chunseng menggeleng pelan, memeriksa pisau yang sudah tumpul, namun masih cukup tajam untuk memotong kertas. Ia melipat kertas merah, lalu membelahnya jadi dua, menatanya rapi di meja.
Berdiri di ambang pintu, ia memandangi badai salju di luar, pikirannya mengembara jauh.
Ia berbalik, mengambil kuas besar, memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu membuka mata yang kini berbinar puas.
Kuas murahan itu dicelupkan dalam tinta hingga penuh, tubuhnya sedikit membungkuk.
Rambut panjangnya tergerai, sebagian jatuh ke meja, tapi ia tak menghiraukan. Sepasang matanya yang lembut kini dipenuhi konsentrasi, tak terganggu apa pun.
Tangan kirinya merapikan kertas merah, tangan kanan mengangkat kuas, menari lincah bagai awan dan naga. Goresan kuasnya mengalir lembut, sekali duduk dua baris selesai.
Baris atas cepat selesai, lalu dilanjutkan baris bawah.
Yu Ming berdiri terpana, merasa heran mengapa menulis beberapa huruf saja seperti mau berperang. Ia hanya bisa menggelengkan kepala.
Hingga tulisan horizontal selesai, Liu Chunseng baru meletakkan kuas, menatap hasil karyanya dengan puas.
Yu Ming buru-buru mengambil mangkuk lem yang kini sudah dingin, lalu pergi ke pintu halaman menempelkan kertas merah itu.
Liu Chunseng mengikutinya, membawa tulisan horizontal, mengangkat bangku kecil ke luar bersama Yu Ming.
Mereka mengoles lem, menyesuaikan tinggi dan lurusnya, lalu merapikan setiap kerutan.
Keduanya berdiri di depan pintu halaman, menatap doa musim semi itu. Baru kemudian Yu Ming teringat menanyakan isi tulisan tersebut.
Berbeda dengan Xu Chang’an, keluarga Yu Ming tak pernah hidup berkecukupan. Saat ayahnya masih ada, hidup sedikit lebih baik, namun sejak ayahnya pergi melaut dan tak pernah kembali, keluarga mereka hidup serba susah, sehingga ia tak pernah sekolah. Beberapa huruf pun baru dikenalnya dari Xu Chang’an. Tak heran jika ia tak bisa membaca doa musim semi yang tertempel di pintu rumahnya sendiri, apalagi yang di rumah Xu Chang’an.
Liu Chunseng pun menjelaskan dengan suara lembut, dan Yu Ming mengangguk paham.
“Entah bagaimana anak itu melewati Tahun Baru di sana,” gumam Yu Ming.
Liu Chunseng tersenyum, “Guru itu memang tak banyak bicara, tapi orangnya bisa diandalkan. Ia takkan membiarkan anak itu kesusahan.”
Yu Ming mengangguk.
Setelah itu, Liu Chunseng mengambil kembali keranjang dan kuas, keduanya menutup pintu, lalu pulang ke rumah masing-masing, bersiap menyambut tahun baru.
Badai salju semakin menjadi, tapi semangat musim semi kian terasa.
Angin dingin membawa salju melintas, namun doa musim semi di depan pintu rumah itu tetap kokoh.
Baris atas bertuliskan: “Musim semi hadir bersama di seluruh penjuru, warna-warni bermekaran silih berganti.”
Baris bawah: “Bunga-bunga indah bermunculan satu demi satu.”
Tulisan horizontal: “Sepanjang tahun penuh kedamaian.”