Jilid Satu: Bulan Purnama yang Baru Bersinar Bab Enam Puluh Sembilan: Indahnya Musim Semi Tak Seindah Sebuah Mimpi
Mereka sedang menanti seseorang, seperti ada pula yang menanti turunnya hujan.
Saat menanti seseorang, biasanya orang itu akan datang terlambat.
Saat menanti hujan, hujan pun turun dengan pelan-pelan.
Cuaca di Kota Sejuta Warna tak sedingin di tempat lain, namun juga tak sehangat yang dibayangkan orang-orang.
Di kota ini, salju tak pernah turun sepanjang tahun, tetapi hujan adalah tamu akrab di sini.
Selepas tahun baru, hujan musim semi yang datang terlalu dini telah mencerai-beraikan keramaian yang seharusnya memenuhi kota ini, sekaligus membuat suhu yang semula hangat mulai turun sejak kemarin.
Kebanyakan orang tidak menyukai hujan ini.
Seseorang memasukkan dua batang kayu yang tumbuh subur karena air hujan ke dalam perapian, menggosokkan kedua tangannya sambil menatap muak ke arah hujan gerimis di luar pintu.
Bajunya indah dan rapi, namun mulutnya tak henti mengumpat dengan kata-kata kotor.
Di sebuah pekarangan kecil, seorang anak laki-laki yang rupawan mengenakan jubah hujan dari anyaman dan memakai caping, berjalan keluar dari halaman, lalu menutup pintu dengan perlahan.
Di luar halaman berdiri sebatang pohon besar, di sebelahnya tumbuh sekuntum bunga wijaya kusuma.
Ranting-ranting pohon yang gundul menyambut gembira hujan musim semi ini, air hujan menetes lalu berkumpul mengikuti alur-alur dahan menuju batang pohon.
Meski hujannya tak deras, karena aliran dari ranting, di sekitar akar pohon sudah terbentuk alur-alur kecil yang menggerus tanah.
Bagi pohon besar, itu bukan masalah. Namun bagi bunga wijaya kusuma yang rapuh, aliran kecil itu terasa begitu besar.
Erosi mulai mengikis tanah, akar bunga itu perlahan-lahan terbuka, terkulai lemah di tanah, naik turun mengikuti arus air hujan.
Bahkan di Kota Sejuta Warna yang terkenal paling bersahabat sekalipun, bunga ini tetap saja tersiksa.
Anak itu berpikir sejenak, merasa mungkin ia bisa mengubah nasib bunga tersebut, lalu melangkah maju, berniat memindahkannya dari bawah pohon.
Namun saat sampai di sisi bunga itu, gerakannya perlahan terhenti.
Tiba-tiba ia teringat kejadian sebelum tahun baru; tanpa pohon itu, bunga itu tetap saja akan mati.
Ia mulai menyadari, sepertinya ia tak bisa mengubah apa pun.
Yang ia tunggu memang hujan, tapi bukan untuk melihat pemandangan menyedihkan ini.
Ia perlahan berdiri tegak, matanya penuh iba.
Ia mengulurkan tangan kecilnya, mendorong batang pohon besar di depannya.
Hujan turun semakin deras, namun aliran di sekitar akar justru berkurang.
Hujan menimpa capingnya bertubi-tubi, anak itu menunduk memandang bunga wijaya kusuma dengan mata bulatnya.
Waktu berlalu cukup lama, hujan mulai reda, namun aliran air kembali seperti semula.
Anak itu kembali mengangkat tangan dan mendorong pohon itu sekali lagi.
Kali ini, ia merasa sangat lelah. Ia tak tahu mengapa ia bisa sekuat ini, namun setelah mengeluarkan tenaga, tubuhnya jauh lebih letih dari biasanya.
Air hujan di ranting, terguncang oleh pohon yang bergoyang, menetes ke caping dan jubahnya, bahkan menembus pelindung hujan dan membasahi bajunya.
Ia tak memedulikan itu. Kali ini, ia mendongakkan kepala, menatap langit yang kosong selain guyuran hujan.
Ia tak tahu kapan hujan yang dinantinya akan berhenti, juga tak tahu berapa lama bunga wijaya kusuma itu bisa bertahan.
Ia hanya tahu, dirinya sendiri takkan mampu bertahan terlalu lama.
Hujan menimpa wajah kecilnya yang rupawan, ia mengedip perlahan, lalu menunduk dan kembali mendorong pohon besar di depannya.
Setelah itu, ia perlahan mengangkat satu tangan kecil yang kini basah dan mulai bergetar.
Ia mengusap air di wajah, namun peluh mengalir menggantikan tetes hujan.
Itu bukan lagi air hujan, melainkan keringat.
Ia telah mendorong pohon besar itu sebanyak tiga kali.
Karena tenaganya hanya cukup untuk tiga kali dorongan saja.
Ia merasa dirinya memang berbeda dari yang lain, contohnya ayah dan dua kakaknya.
Mendorong pohon besar hingga letih adalah wajar, tapi mampu menggerakkan pohon itu sendiri jelas bukan hal biasa.
Ia merasa dirinya agak aneh.
Ia menatap bunga wijaya kusuma di depannya, matanya penuh rasa enggan berpisah.
Kemudian ia mengangkat kaki, menginjak genangan di depan, tanpa menoleh ke belakang.
Bukan karena kecewa pada bunga itu, melainkan karena sadar ia tak berdaya.
Ia melangkah di jalanan kota yang sepi, di tangannya tergenggam dua keping uang tembaga.
Itu adalah uang yang ditinggalkan ayahnya sebelum berangkat, agar ia membeli sarapan sendiri.
Dalam perjalanan, ia menghitung-hitung bahwa uangnya cukup untuk membeli dua atau tiga roti kukus, namun pikirannya tetap tak bisa melupakan bunga dan pohon tadi.
Ia mengetuk pelan pintu kayu sebuah toko.
Namun berdiri di luar, ia tak mencium aroma roti kukus, juga tak melihat uap panas mengepul dari dalam rumah.
Pintu terbuka. Seorang perempuan setengah baya yang membungkus diri rapat-rapat, menggigil di dalam toko. Begitu melihat anak itu mengulurkan dua keping uang, buru-buru menggeleng dan menolak.
Pintu kembali tertutup. Dari balik pintu, keluhan dan gumam perempuan itu masih terdengar.
Anak itu mengambil kembali uang tembaga, lalu melanjutkan langkah.
Tahun baru telah lewat sepuluh hari lalu, toko-toko di kota pun sudah mulai buka beberapa hari ini.
Namun karena hujan musim semi membuat suhu tiba-tiba dingin, pemilik toko roti kemarin enggan menanak dua bakul roti kukus.
Bukan karena tahu takkan ada yang beli hari ini—meski kenyataannya memang demikian—tapi karena selimut di ranjang terlalu hangat untuk ditinggalkan.
Walau di tempat lain hujan ini tak terlalu dingin, bagi warga Kota Sejuta Warna yang terbiasa hangat, mereka enggan menerima hawa dingin ini.
Pemerintahan tengah libur, jadi tak ada kereta kuda lewat di jalanan, tak ada pejabat bangun kesiangan yang duduk di kereta dan melontarkan umpatan indah dari mulutnya.
Ia merasa semua ini tak semestinya. Ia memang lelah, tapi bukan karena lapar.
Ia menuju ke tengah kota, lalu ke selatan. Di sana ada sebuah danau bernama Danau Merindu Musim Gugur.
Danau itu terlalu luas untuk kota yang tidak makmur ini, dan di musim gugur terlalu indah.
Begitu luasnya, hingga tampak mewah di kota yang sederhana, dan keindahannya di musim gugur membuat danau itu tampak sangat buruk saat bunga-bunga berguguran dan musim berlalu.
Bukan benar-benar buruk, hanya terasa demikian bila dibandingkan dengan musim gugur.
Kini, tak ada tanda-tanda musim semi di kota ini. Hanya kertas merah dan sisa bekas mercon yang hangus sebagai penanda tahun baru telah berlalu.
Anak itu tak benar-benar menanti musim semi, ia hanya menunggu hujan, meski hujan ini tampaknya berbeda dari yang ia bayangkan.
Ia tak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, namun ia sadar, ini bukanlah yang ia cari.
Hujan menimpa permukaan danau, menimbulkan riak kecil.
Lalu riak-riak itu cepat menyatu, semuanya kembali menjadi air danau.
Anak itu terpaku, menurutnya danau ini tetap indah, bahkan lebih indah dari biasanya.
Namun tujuannya bukan untuk melihat danau ini.
Meski hari hujan, kuda-kuda tetap butuh makan.
Ia merasa ada yang kurang di tangannya. Ia menunduk, dan mendapati tangannya yang menggenggam uang tembaga kini sudah terbuka.
Ia menengadah, di kejauhan seorang kakek lusuh berjalan perlahan di bawah hujan.
Ia termenung sejenak, lalu berjalan ke barak, masuk ke kandang kuda.
Hari mulai sore, namun hujan tak kunjung reda.
Tak ada tentara berlatih di lapangan, tak ada kuda perang yang berlari.
Ia mengambil keranjang bambu kesayangannya, mengambil sedikit rumput, dan dengan hati-hati menaruhnya di palungan.
Biasanya ia hanya melakukan sedikit hal: melihat bunga, memberi makan kuda, dan melamun.
Kini pun sama, ia jongkok di depan palungan, memberi makan kuda-kuda itu.
Hujan menetes dari atap kandang ke capingnya, ritmenya teratur.
Namun kali ini ia tak melamun. Matanya terbuka, tapi ia seperti sedang bermimpi.
Dalam mimpinya, jalan dari pekarangan rumah ke kandang kuda seakan ia lalui sekali lagi.
Langit masih diguyur hujan, tangannya masih erat menggenggam dua keping tembaga, seolah tak ada yang berbeda.
Hanya saja, matanya tak lagi melihat pohon besar atau Danau Merindu Musim Gugur, dan hujan tampak jauh lebih deras.
Namun bunga itu tetap tumbuh di tempatnya, seakan hidup kembali, menerima hujan musim semi, daunnya mengembang, akarnya semakin kuat.
Ia tak lagi mendorong pohon besar, sebab pohon itu tak ada lagi di halaman, dan meski masih ada pun ia merasa tak perlu melakukannya.
Ia hanya keluar dari rumah, menutup pintu perlahan, lalu pergi ke toko itu lagi.
Ia ikut mengantre panjang untuk membeli dua atau tiga roti kukus.
Saat antre, sebuah kereta kuda melintas cepat, rodanya memercikkan air kotor ke tubuhnya.
Kusir tak memperhatikan, apalagi pejabat di dalam kereta.
Hanya terdengar keluh kesah dari dalam kereta.
Namun barisan antrean itu memperhatikan. Mereka tak menertawakan, tak menghina, apalagi membela untuk memaki kereta yang sudah jauh itu.
Sebaliknya, barisan itu segera membelah diri, orang-orang di belakang menjauh dari tepi jalan.
Sebuah kereta lain melintas, rodanya seolah memercikkan bunga api, suara dari dalam kereta makin panik dan kasar.
Anak itu tetap berdiri di belakang, tapi kali ini cipratan air tidak mengenainya, air yang terpercik masih berjarak cukup jauh.
Setelah lama, ia menyerahkan dua keping tembaga, menerima tiga buah roti kukus dan selembar kertas minyak dari pemilik toko yang tetap berwajah masam.
Ia mengambil satu, menggigitnya, dan menutupi dua sisanya dengan kertas minyak.
Hujan menimpa kertas itu, namun roti tetap terasa hangat.
Satu roti cepat habis. Dalam hujan, ia berjalan di jalanan, mendengar suara pedagang, mendengar orang menawar dengan tergesa-gesa.
Ia juga melihat seseorang yang memayungi diri dengan kertas minyak, wajah merah menuntut penjual untuk mengembalikan barang.
Ia kembali ke tengah kota, lalu ke selatan. Ia tak lagi menemukan danau itu, kini di tempat itu berdiri tembok tinggi, entah untuk apa.
Yang pasti, tak ada keindahan, hanya hawa menakutkan yang terasa.
Ia takut, kakinya mempercepat langkah, tiba-tiba roti di pelukannya jatuh satu.
Basah oleh hujan, hancur dan lembek, hatinya pilu.
Ia menunduk lama, lalu berbalik. Seorang kakek berpakaian pengemis memanggilnya.
Ia menoleh, melihat kakek itu menggeleng pelan.
Kakek itu berjalan pelan, mengambil roti yang terjatuh, dan menyimpannya di pelukan.
Ia mengejar kakek itu, membungkus erat roti terakhir dengan kertas minyak, dan menyerahkannya.
Kakek itu tersenyum padanya, menerima roti dengan tangan terbuka, lalu pergi.
Ia kembali ke barak, namun tak menemukan kandang kuda, tak juga menemukan kuda-kuda yang kurus itu.
Namun di tengah hujan musim semi, seolah ia mendengar derap kuda berlari.
Dari suara itu, ia tahu, kuda-kuda itu pasti gagah dan perkasa.