Bagian Pertama, Bab Tujuh Puluh Dua: Dosa yang Diciptakan Sendiri
Di dalam hati, Nianhua merasa tidak yakin. Meskipun ia sudah mempersiapkan diri secara mental, bagaimanapun saat ini ia sendirian, jadi mengatakan bahwa ia tidak takut jelas hanyalah kebohongan. Namun jika ia mundur di saat genting, itu bukanlah gayanya. Ketakutan dan keinginan untuk menghindari bahaya adalah reaksi wajar manusia, jadi meskipun saat ini Nianhua berkata ia tidak ingin turun, itu pun tidak akan dipermasalahkan. Hanya saja, Nianhua adalah tipe orang yang tidak bisa diprovokasi. Ketika Nie Wuya memancingnya, “Nona He, apa kau takut turun ke bawah?” Nianhua pun langsung membulatkan tekad, “Tentu saja tidak. Hanya saja, tempat itu gelap gulita, bagaimana caranya turun ke sana?”
Nie Wuya tahu seorang gadis kecil pasti ketakutan, jadi ia sudah bersiap. Ia melemparkan sebuah batu bercahaya dari lengan bajunya. Batu bercahaya itu dilempar ke dalam ‘ruang rahasia’, bergulir menuruni lantai dengan suara “duk, duk, duk”, hingga suara itu hilang, menandakan batu itu telah mencapai dasar.
“Nona He, lihatlah, sekarang sudah ada cahaya, bukan...”
Nianhua mendekat dan melihat ada satu titik cahaya di dalam ‘ruang rahasia’. Ia memperkirakan jarak dari tempatnya berdiri ke sana kira-kira sepuluh meter. Perasaan dasar yang tak terlihat tadi kemungkinan hanya ilusi akibat kegelapan.
“Aku turun duluan...” Nie Wuya melompat, tubuhnya segera lenyap dari pandangan.
Sebelum turun, Nianhua kembali mengirim pesan suara ke Song Zichi, lalu ia turun dengan mengendalikan pedangnya.
Memang, batu bercahaya itu sedikit memberikan penerangan, tetapi cahayanya sangat redup. Karena itu, sembari melayang dengan pedang, Nianhua menyalakan api menggunakan jimat, sehingga seluruh lingkungan ‘ruang rahasia’ menjadi terang-benderang.
Nianhua belum ingin memikirkan apa tujuan Nie Wuya membuat ‘ruang rahasia’ ini, karena untuk sampai ke dalamnya saja tampaknya harus melewati lorong rahasia penuh jebakan. Setelah mendarat, tinggi ruangan dari lantai ke atap sudah tidak memungkinkan untuk terbang dengan pedang, jadi Nianhua hanya berjalan mengikuti Nie Wuya. Namun, Nie Wuya memperingatkan agar Nianhua tidak berjalan tepat di belakangnya karena itu sangat berbahaya.
Nianhua tidak tahu bahaya apa yang dimaksud Nie Wuya, jadi ia menoleh ke belakang. Sekali melirik, ia hampir kehilangan nyawanya karena ketakutan; setiap langkah yang ia ambil, lantai di belakangnya tampak seperti akan ambles. Dengan kata lain, ini adalah jalan ‘satu arah’ tanpa jalan kembali.
Nianhua segera berjalan sejajar dengan Nie Wuya. Semakin dalam mereka masuk, semakin terang pula cahaya di sekitar mereka, hingga akhirnya terlihat sebuah pintu batu berdiri tegak di depan.
Awalnya Nianhua mengira pintu batu itu pasti hanya bisa dibuka dengan menekan tombol rahasia, siapa sangka Nie Wuya justru membukanya dengan sebuah ciuman.
Apa? Nianhua menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat Nie Wuya mengecup pintu batu itu, lalu pintu pun terbuka.
Nianhua tentu saja penasaran, meski saat itu bukanlah waktu yang tepat. Ia tetap bertanya, “Ketua Nie, kau mencium pintu ini dan pintu langsung terbuka. Bagaimana pintu itu tahu bahwa itu adalah kau?” Jika menggunakan pengetahuan dari kehidupannya yang lalu, Nianhua mungkin hanya bisa menjelaskan ini seperti sistem sidik jari, tetapi ia belum pernah mendengar kunci yang menggunakan pola ciuman.
“Kau adalah orang pertama yang bertanya demikian kepada ketua. Pintu ini sebenarnya adalah batu yang sudah menjadi roh, seperti binatang peliharaan spiritual yang dimiliki murid-murid Istana Yaohua. Aku sudah mengikat perjanjian darah dengan batu roh ini, jadi sudah terbentuk hubungan spiritual. Ciumanku mustahil tertukar dengan orang lain, karena di sini ada... jejak auraku.”
Melihat Nie Wuya menekan bibirnya dengan ujung jari, Nianhua tidak merasa gerakan itu menggoda, justru seluruh tubuhnya merinding, dan dalam hati ia menambahkan, ‘Orang ini benar-benar aneh!’
Begitu pintu terbuka, meskipun Nianhua belum sempat menyesuaikan mata dengan cahaya seterang siang itu, ia sudah bisa merasakan bahwa ruang di depannya sangat luas. Di telinganya terdengar suara logam memukul-mukul batu.
Ketika kedua matanya benar-benar terbuka, Nianhua melihat pemandangan yang mirip dengan adegan film. Apakah ini sebuah tambang batu? Selain banyak ‘pekerja’ bertelanjang dada yang sedang memukul dinding dengan alat, di sana juga terdapat tungku-tungku besar dan kecil tersebar di berbagai sudut.
“Wow, semua ini...” Nianhua juga langsung merasakan panas yang keluar dari tungku-tungku itu.
“Itu semua adalah batu spiritual,” kata Nie Wuya sambil mengambil sepotong batu spiritual yang sudah ditambang dan menunjukkannya pada Nianhua.
Kagum memang kagum, tetapi Nianhua tidak percaya Nie Wuya membawanya ke sini hanya untuk memperlihatkan batu spiritual. “Ketua Nie, sejak tadi kau pura-pura terluka parah, lalu membawaku ke sini. Sebenarnya apa yang kau inginkan?”
Nie Wuya tidak peduli Nianhua tahu ia hanya berpura-pura, karena tujuannya sudah tercapai. Ia merasa bahwa memberi tahu alasan kematian seseorang juga sebuah kebaikan. “Gadis kecil, aku hanya menjalankan amanat seseorang. Jadi kalau kau mati, jangan salahkan aku.”
Nie Wuya tidak akan turun tangan sendiri. Ia memanggil dua murid Songmen yang tadinya bekerja sebagai penambang. “Bawa dia ke bawah... tapi perlakukan dengan lembut. Kasihan juga gadis kecil seperti ini.”
“Baik.” Dua murid bertelanjang dada itu meletakkan alat di tangan mereka, lalu berdiri di kanan dan kiri Nianhua, berniat menangkapnya.
Namun Nianhua telah berlatih hampir setengah tahun di Istana Yaohua, bukan tanpa hasil. Ia segera mengayunkan pedangnya, melukai salah satu murid Songmen, dan menendang yang lainnya hingga jatuh ke tanah.
Melihat dua muridnya satu terluka dan satu tergeletak, sebagai ketua sekte tentu Nie Wuya merasa malu. Ia menyuruh keduanya kembali bekerja, lalu memutuskan untuk turun tangan sendiri. “Gadis kecil, jika kau melompat sendiri, kulitmu tidak akan terluka. Tapi kalau aku yang menurunkanmu, kau takkan senyaman itu.”
Nianhua melihat ke arah salah satu tungku besar. Barangkali itu bagian dari proses membuat batu spiritual. “Bagaimana kalau kau saja yang melompat duluan? Aku menyusul di belakang?” Nianhua mengeluarkan kain ajaib, lalu berteriak, “Nie Wuya!”
Nie Wuya sejak awal sudah tahu Nianhua punya harta pelindung di tubuhnya, tapi ia tidak takut dengan kain ajaib itu. Ia hanya tak mau batu-batu spiritual yang susah payah ditambang malah tersedot masuk ke dalam kain itu. “Gadis kecil, kau menggunakan harta karun itu padaku tidak adil. Aku tidak membawa harta karun apa pun!”
Dari cerita Song Zichi, Nianhua tahu sedikit tentang Nie Wuya, tahu juga kalau ia sangat cinta harta dan uang. Maka ia berniat memanfaatkan kesempatan ini. “Kalau begitu lepaskan aku! Kalau tidak, semua batu spiritualmu akan kusedot masuk ke dalam kain ajaibku.”
Barulah saat itu Nie Wuya merasa menyesal, menyesal tidak membunuh Nianhua di jalanan saja. “Tarik kain ajaibmu... Pikirkan baik-baik, tanpa aku kau juga tidak akan bisa keluar dari sini.” Belum lagi soal pintu batu, jalan satu arah itu memang diciptakan agar para murid tidak bisa membawa kabur batu spiritual.
Tepat ketika Nianhua sedang memikirkan cara keluar, pintu batu itu tiba-tiba ‘roboh’. Suara itu membuat para murid Songmen serempak berhenti bekerja dan menoleh.
Siapa yang datang? Tepatnya, sepasang burung dan seorang manusia. Song Zichi duduk di punggung burung jantan bernama Dada, sementara burung betina bernama Xiaoxiao menunggu Nianhua.
“Wah, ada bala bantuan rupanya?” Nie Wuya menatap Song Zichi sambil mengejek.
“Ayo cepat naik!” Song Zichi mengacungkan pedang dan langsung menyerang Nie Wuya. Di sela kesempatan itu, ia meminta Nianhua menarik kembali kain ajaibnya dan naik ke punggung Xiaoxiao.
“Ah, rupanya kalian sekarang sudah menjadi sepasang kekasih ya? Sayang aku tidak sempat menghadiri upacara kalian waktu itu. Tapi tidak apa, sekarang aku akan memberikan hadiah istimewa untuk kalian.”
Nie Wuya mengibaskan lengan bajunya, membuat belasan murid langsung jatuh ke dalam tungku besar. Asap oranye yang semula mengepul dari tungku itu kini perlahan tertelan oleh asap hitam yang makin lama makin pekat, hingga akhirnya membentuk bayangan tengkorak.