Jilid Satu Bab Empat Puluh Jurus Pemusnah Iblis
Refleks pertama Nian Hua adalah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun cara manusia biasa mana mungkin bisa melawan siluman rubah. Ia pun memutuskan untuk mencoba merapal sebuah mantra. Namun, Hu Dan Niang sudah tahu lebih dulu bahwa Nian Hua akan melakukan itu, sehingga ia segera menutup mulut Nian Hua dengan ekornya. "Mmm... mmm..." Saat ini, mulut Nian Hua penuh dengan bulu rubah.
Hu Dan Niang terus menyeret Nian Hua mundur menuju gerbang utama balairung, sedangkan para murid Istana Yaohua yang hadir hanya bisa mundur perlahan karena takut Hu Dan Niang akan melukai Nian Hua. Hu Dan Niang mengira dengan cara ini ia bisa kabur, tetapi meski ia berhasil menyandera Nian Hua, kekuatannya telah melemah karena kembali ke wujud aslinya, sehingga tak mampu menahan serangan mematikan dari Song Zichi.
“Segel Iblis... Tebas!”
Tubuh Hu Dan Niang tertancap di dinding oleh jurus pemusnah iblis. Meski tubuhnya musnah, namun inti silumannya masih ada. Inti siluman adalah hasil dari kekuatan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Walaupun tubuh telah mati, selama inti itu tetap ada, masih ada harapan untuk pulih.
“Rasa belas kasih tidak boleh diberikan pada makhluk yang bukan dari golongan kita...” Song Zichi mengambil inti siluman dari mulut Hu Dan Niang, lalu menghancurkannya di depan mata Nian Hua. Kata-katanya ditujukan kepada Nian Hua.
Nian Hua terpaku memandang dinding itu. Selain bercak darah, tidak ada apa-apa lagi di sana. Hal ini karena setelah inti siluman lenyap, tubuh Hu Dan Niang juga ikut menghilang sepenuhnya.
Song Zichi melangkah maju dan berkata pada Guru Besar Yuxu, “Ketua, murid ada sesuatu yang perlu dilaporkan.”
Guru Besar Yuxu langsung menebak bahwa yang akan dikatakan Song Zichi pasti berkaitan dengan racun gu, lalu menyuruh dua murid membawa Qin Shu pergi ke luar ruangan. Ia juga memerintahkan Nian Hua, Song Hong, Wu Xier, dan murid lain untuk meninggalkan balairung.
“Ketua, darah siluman rubah tadi sebenarnya adalah darah murid,” lapor Song Zichi.
Guru Besar Yuxu terkejut, “Darahmu?”
“Siluman rubah itu ingin mengambil darah Lin Qu untuk menipu kita, jadi aku menyamar sebagai Lin Qu agar ia mengambil darahku. Darahku mengandung racun gu. Jika terkena darah roh, pasti akan muncul keanehan. Karena itu, menurutku ini cara yang baik untuk membuat siluman rubah menampakkan diri.”
Guru Besar Yuxu tidak menyalahkan Song Zichi atas tindakan diam-diamnya. Bagaimanapun, siluman rubah sudah mati, tubuh Qin Shu pun telah kembali. Namun, ini juga menandakan bahwa Istana Yaohua sedang berada dalam bahaya. “Tak disangka, setelah Sekte Song, kini Istana Yaohua juga disusupi siluman dari sekte iblis. Sepertinya para iblis itu sudah tak sabar lagi.”
Saat Guru Besar Yuxu sedang merenung sambil membelai janggutnya, seorang murid masuk dari luar ruangan, “Ketua, Tuan Muda Shen Qingtang dari Keluarga Shen di Bukit Sembilan meminta untuk bertemu.”
“Keluarga Shen di Bukit Sembilan? Saudara Ketua, jangan-jangan itu keluarga Shen yang terkenal itu?” Kakek Mei, yang hari ini datang untuk melihat pengetesan ulang akar spiritual Qin Shu, segera mengalihkan perhatiannya ke masalah baru saat mendengar kabar kedatangan keluarga Shen. Sejak lama ia mengidamkan pusaka keluarga Shen, Dupa Pengumpul Harum, namun belum pernah berkesempatan melihatnya. Maka, meski belum tahu maksud kedatangan tamu ini, wajahnya tetap berseri-seri penuh harap.
Guru Besar Yuxu pernah bertemu Shen Xiao dan tahu bahwa putrinya, Shen Ziyu, adalah salah satu murid baru bersama Nian Hua. Namun, ia tidak mengenal siapa itu Shen Qingtang. Meski begitu, jika seseorang datang membawa nama besar keluarga Shen namun ternyata adalah siluman iblis dari sekte hitam, toh hari ini sudah tercipta pertumpahan darah, kalau pun datang yang kedua, akan ditangkap sekalian.
“Suruh dia masuk.”
Song Zichi yang berasal dari keluarga Song pernah berhubungan dengan keluarga Shen, ia pun mengenal Shen Qingtang. Sepuluh tahun lalu, saat perang besar antara dunia dewa dan iblis, Shen Qingtang hanyalah putra seorang pelayan di keluarga Shen. Namun, karena ayahnya gugur demi menyelamatkan Nyonya Besar Shen, Shen Qingtang diangkat sebagai anak oleh ketua keluarga, Shen Xiao.
Shen Qingtang datang ke Istana Yaohua dengan pakaian penuh debu perjalanan, namun tak tahu bahwa pengetesan ulang akar spiritual Qin Shu telah usai. Saat ia masuk ke balairung, ia sudah bertanya pada seorang murid luar, namun murid itu hanya tahu bahwa acara sudah selesai, tak tahu hasilnya.
Meski begitu, Shen Qingtang merasa, karena sudah tiba di sini, ia harus menyampaikan informasi yang diketahui keluarganya tentang sekte iblis pada Istana Yaohua. Bagaimanapun, mereka sama-sama berada di jalur kebenaran, maka sudah sewajarnya saling berbagi kabar.
“Hamba Shen Qingtang memberi salam kepada Ketua Yuxu.” Shen Qingtang memberi hormat.
Guru Besar Yuxu melihat pemuda di depannya memancarkan aura kebenaran, lalu bertanya, “Kamu dari keluarga Shen di Bukit Sembilan, apa hubunganmu dengan ketua keluarga Shen Xiao?”
“Beliau adalah ayah angkat hamba.”
Guru Besar Yuxu mengamati Shen Qingtang sejenak, “Apa tujuan kedatanganmu hari ini?”
Shen Qingtang melihat di balairung selain Ketua Yuxu ada dua orang lain, ia pun berpikir, bila Ketua tak mengusir mereka, berarti cukup dipercaya. Ia pun menjawab, “Ini berkaitan dengan siluman rubah di Bukit Sembilan.”
Siluman rubah? Yang merasuki Qin Shu juga siluman rubah. Apakah ada kaitannya? Guru Besar Yuxu memberi isyarat agar Shen Qingtang melanjutkan.
“Seperti yang Ketua ketahui, Bukit Sembilan adalah tempat latihan keluarga kami, dan siluman rubah di sana telah hidup dan berkembang biak selama ribuan tahun. Namun, beberapa waktu lalu, siluman rubah itu mulai meninggalkan Bukit Sembilan. Keluarga kami mengirim orang untuk menyelidiki, dan akhirnya kami dapati tujuan mereka adalah di atas jurang Lembah Hantu…”
“Jurang Lembah Hantu? Bukankah itu wilayah sekte iblis?” Kakek Mei berbisik pada Guru Besar Yuxu.
Shen Qingtang melanjutkan, “Sejak peristiwa di Sekte Song, keluarga kami meningkatkan kewaspadaan. Ketika Istana Yaohua mengadakan ujian calon murid baru, Ziyu mengatakan ada yang aneh pada Qin Shu dari Puncak Yiji. Setelah itu, kami memang menemukan ada siluman rubah yang keluar-masuk ke Istana Yaohua.”
Guru Besar Yuxu turun dari tempat duduknya, mendekati Shen Qingtang, lantas memegang pergelangan tangan pemuda itu dan menekan titik akupunturnya sebelum akhirnya melepaskan, “Terus terang saja, baru saja memang ada siluman rubah menyusup ke Istana Yaohua.”
Shen Qingtang memahami kewaspadaan Guru Besar Yuxu, “Tindakan Ketua sangat wajar. Di masa sekarang, sekte iblis sedang bergerak, maka siapa pun orang luar yang masuk harus diwaspadai… Bagaimana nasib siluman rubah itu?”
“Sudah dimusnahkan.”
Shen Qingtang mengangguk lega, “Syukurlah… Ada satu hal lagi yang ingin saya mohon, bolehkah saya menemui Ziyu?” Shen Qingtang membawa surat pribadi dari Shen Xiao untuk Shen Ziyu. Karena Ziyu hanya pura-pura sakit agar tak ikut ujian bersama Qin Shu, dan sampai kapan harus berpura-pura, tentu jawabannya ada di surat sang ayah.
Guru Besar Yuxu berpikir, permintaan Shen Qingtang untuk bertemu Ziyu tidak masalah. Walau seharusnya Istana Yaohua menolak semua tamu luar saat ini, tapi karena keluarga Shen membawa kabar penting tentang sekte iblis dan siluman rubah, permintaan ini patut dipenuhi.
Song Zichi semenjak tadi berdiri di samping memperhatikan Shen Qingtang. Sejak awal masuk balairung, ia menyadari, meski berasal dari keluarga kultivator, Shen Qingtang bukanlah orang yang menekuni jalan keabadian. Sebab, siapa pun yang berlatih akan memancarkan aura khusus, dan alasan Guru Besar Yuxu sempat curiga padanya adalah karena ia tak memiliki aura itu, juga tak ada aura siluman.
“Terima kasih, Ketua.” Shen Qingtang berterima kasih saat permintaannya diizinkan.
Setelah Shen Qingtang keluar dari balairung, Guru Besar Yuxu mengernyitkan dahi, lalu berkata pada Song Zichi, “Setelah peristiwa ini, kau harus lebih giat berlatih bersama Laidi. Gadis kecil itu terlalu baik hati dan belum pernah mengalami bahaya. Kau harus benar-benar menjaga dan membimbingnya.”
Song Zichi mengangguk dan mundur keluar dari balairung.
Guru Besar Yuxu lalu beralih kepada Kakek Mei, “Adik seperguruan, kau juga kembalilah. Urusan ramuan baru, tolong kau urus dengan baik.”
Kakek Mei tersenyum lebar, “Tenang saja, Saudara Ketua.” Ia kini merasa bangga, sebab karena ulah sekte iblis, Puncak Ramuan miliknya jadi sangat dibutuhkan. Ia berpikir, jika kelak terjadi pertempuran besar seperti sepuluh tahun lalu, pil-pil obat buatannya akan menjadi barang langka.
Huh! Berani-beraninya kalian menghinaku dulu? Kakek Mei membayangkan bagaimana nanti para puncak lain datang memohon obat padanya, dan perasaan ingin membalas dendam pun tumbuh dalam hatinya.